Galangan Kapal Andalkan BUMN

Kompas.com - 19/02/2013, 11:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Industri galangan kapal nasional optimistis bisnis pembuatan kapal baru bisa melesat tinggi tahun ini.

Mereka berharap pertumbuhan pembuatan kapal baru bisa terdongrak 30 persen dari nilai produksi galangan kapal tahun lalu yang sekitar 1,53 miliar dollar AS. Artinya, nilai proyek kapal baru tahun ini diharapkan bisa mencapai 1,99 miliar miliar dollar AS.

Julius Tangketasik, Sekretaris Jenderal Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) mengatakan salah satu pendorong bisnis galangan kapal berasal dari pesanan perusahaan plat merah. "Seperti dari PT Pertamina, dan untuk beberapa waktu masih didorong dari sana," katanya kemarin.

Ia berharap adanya pesanan dari perusahaan BUMN bisa menjadi pemicu pembeli kapal yang lain supaya memesan dari perusahaan galangan kapal domestik.

Ia mengakui, masih enggannya beberapa kalangan membeli kapal buatan lokal lantaran dari sisi harga lebih mahal 10 persen ketimbang kapal impor. Penyebabnya adalah pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk komponen impor yang rata-rata mencapai 10 persen dari nilai impor. Sisi lainnya, kapal impor seperti buatan China justru bisa masuk tanpa dikenai bea masuk.

Malah, belum lama berselang Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berencana mengimpor 2.500 kapal berbobot 1.500 ton sampai 3.000 ton untuk melayani pelayaran jarak dekat dalam lima tahun ke depan dengan nilai proyek mencapai Rp 15 triliun. "Ini bisa memperburuk citra industri galangan kapal nasional," katanya.

Ia mengklaim, sekitar 100 galangan kapal di Indonesia sanggup memenuhi kebutuhan Kadin.

Soerjono, Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, merasa prihatin dengan langkah yang diambil Kadin. Pasalnya, kapal yang diimpor kapal bekas.

Supaya galangan kapal lokal bisa bersaing, ia akan mengusulkan penghapusan PPN  jasa pengangkutan komponen kapal serta tawaran berinvestasi di sektor komponen kapal. Saat ini, di Indonesia ada 250 galangan kapal. (Tendi Mahadi/Kontan)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau