Perumahan rakyat

Fasilitas Belum Siap, Warga Tetap Diminta Menempati

Kompas.com - 20/02/2013, 03:40 WIB

Jakarta, Kompas - Tiga unit bangunan Rumah Susun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, yaitu Cluster B Blok 9, 10, dan 11 yang dipersiapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk warga relokasi Waduk Pluit, ternyata belum siap huni.

Fasilitas seperti listrik dan air hingga Selasa (19/2) belum bisa diakses. Namun, warga yang sudah mendapat kupon atas hunian tersebut sudah diminta untuk segera menempati kamar masing- masing agar tidak dianggap mengundurkan diri.

Dari pantauan Kompas, ketiga blok tersebut memang dalam tahap pengerjaan fasilitas. Dibandingkan dengan blok 9, proses pengerjaan fasilitas di blok 10 dan 11 sudah hampir selesai.

”Proses pengerjaannya sudah sekitar 80 persen. Instalasi listrik sudah tidak ada masalah dan tinggal dihubungkan ke panel dan meteran. Kalau untuk air tinggal pemasangan selang ke pompa. Harapannya, semoga satu minggu ke depan bisa diselesaikan,” kata Tukiyanto, pelaksana proyek blok 10 dan 11.

Sementara itu, blok 9 mulai dikerjakan hari ini. Itu pun hanya sebatas membersihkan kotoran yang ada di dinding lorong di tiap lantai serta pemeriksaan selang.

”Kalau untuk blok 9 paling lama satu bulan, karena masih banyak selang yang belum disambungkan,” kata Wito, petugas bagian sprinkle air bersih.

Selain belum selesainya pengerjaan fasilitas, kondisi tiga blok tersebut sangat memprihatinkan. Satu unit kamar yang terdiri dari ruang besar dengan dua tempat tidur, dapur, dan kamar mandi tersebut sangat kotor. Di beberapa ruangan juga terlihat lantainya becek karena ada genangan air yang masuk. Tidak sedikit juga jendela kamar yang terlepas karena engselnya rusak serta kunci kamar yang sudah berkarat.

Khawatir

Namun, beberapa warga harus menempati kamar itu meski tanpa adanya fasilitas seperti listrik dan air. Mereka sementara harus bergelap-gelapan serta mengambil air ke sumur yang terletak cukup jauh dari blok mereka.

”Sudah di sini sejak hari Minggu kemarin, tetapi masih gelap- gelapan. Listrik ada, tetapi itu masih dibantu tukang dengan mengalirkannya dari bawah. Air mesti ngangkut dari sumur,” kata Ririn (25), salah satu penghuni kamar lantai 2 di blok 10.

Ririn mengatakan, ia dan keluarganya terpaksa menempati kamar tersebut meski fasilitasnya belum ada karena khawatir dianggap mengundurkan diri.

”Yang daftar banyak Mas, pada rebutan juga. Kalau enggak ditempatin, takutnya hangus. Kan, sayang,” kata Rini.

Kekhawatiran Ririn memang beralasan. Pengumuman di dinding rumah susun (rusun) yang berasal dari Unit Pengelola Rusun Wilayah I Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi DKI Jakarta memang menyatakan, jika warga yang sudah mendapatkan kunci atas Rusun Cluster B, Blok 9, 10, dan 11 tidak segera menempati kamar mereka, maka dinyatakan mengundurkan diri.

Menanggapi hal tersebut, Jati Waluyo, Kepala Unit Pengelola Rusun Wilayah I Dinas Perumahan dan Gedung Pemda Provinsi DKI Jakarta mengatakan, pengumuman tersebut dibuat untuk menginformasikan kepada warga seperti apa kondisi fasilitas rusun saat ini.

”Air mungkin akan selesai dalam tujuh hari, tetapi dalam kondisi yang masih kritis. Oleh karena itu sementara kami menyediakan mobil toilet untuk mereka yang membutuhkan. Harapannya, masyarakat bisa menerima kondisi tersebut apa adanya,” kata Waluyo. (K12)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau