Petani Bawang Perluas Lahan ke Kendal

Kompas.com - 20/02/2013, 14:43 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Petani asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah kini gencar membuka lahan pertanian bawang merah di wilayah Kabupaten Kendal. Petani itu menyewa lahan pertanian padi untuk ditanami bawang merah mencapai 500 hektar.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Khafid Sirotudin, Rabu (20/2/2013) menyatakan, invasi pertanian bawang merah kini mengancam lahan padi maupun lahan tanaman tebu.  

"Tanaman bawang merah diakui memang menguntungkan, ketika di lahan daerah itu belum begitu banyak yang menanam bawang," kata Khafid Sirotudin.

Para petani bawang merah asal Brebes, bermodal besar. Mereka tidak hanya menawarkan hasil panen yang menguntungkan, tapi juga mereka berani menyewa lahan dengan harga mahal.

Lahan tanaman padi, harga sewanya rata-rata Rp 6 juta per hektar. Lahan yang sama disewa cukup mahal oleh petani asal Brebes itu. Satu hektar lahan bisa disewa antara Rp 25 juta sampai Rp 35 juta per tahun.

Untuk pertanian bawang merah yang ditanam di Kendal, bisa mencapai keuntungan sampai Rp 25 juta per bahu atau sekitar 6.000 meter persegi sekali panen. Hasil ini jauh dari hasil padi satu hektar hanya menghasilkan keuntungan kurang lebih Rp 10 juta sekali panen.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau