Dampak bencana

Banjir Jakarta Tak Pengaruhi Asuransi Kerugian

Kompas.com - 20/02/2013, 17:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemeringkat Fitch Ratings memperkirakan kerugian tertanggung dari banjir pada Januari lalu di Jakarta tidak akan memicu masalah solvabilitas secara luas atau masalah keuangan yang berlebihan pada neraca perusahaan asuransi umum di Indonesia.

Hal ini terutama disebabkan oleh tingkat penetrasi asuransi yang rendah di Indonesia, yaitu kurang dari 2 persen dari produk domestik bruto berdasarkan perkiraan Swiss Re Sigma serta perlindungan dari cakupan reasuransi.

Demikian keterangan dari Fitch Rating di Jakarta, Rabu (20/2/2013). Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, banjir di Jakarta menyebabkan setidaknya 41 kematian.

Banjir meliputi total tanah seluas 41 kilometer persegi atau setara dengan 8 persen dari total luas Jakarta. Kejadian Ini memengaruhi 74 kelurahan di 31 kecamatan di sepanjang lima kotamadya di Jakarta.

Menggenangi lebih dari 100.000 rumah serta beberapa jalan raya utama Ibu Kota. Pemerintah melaporkan bahwa total kerugian ekonomi dapat mencapai Rp 32 triliun.

Penilaian awal Fitch adalah bahwa kerugian tertanggung akan jelas lebih rendah daripada kerugian ekonomi meskipun sejauh mana dampaknya akan bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Kerugian tertanggung diperkirakan akan mencapai Rp 3 triliun berdasarkan perkiraan industri. Ini akan memakan waktu bagi perusahaan pemodelan bencana internasional dan perusahaan adjuster kerugian asuransi lokal untuk mematangkan jumlah kerugian tertanggung.

Mayoritas kerugian mungkin datang dari bidang asuransi kendaraan dan properti. Namun, karena risiko banjir tidak secara otomatis termasuk dalam banyak polis asuransi motor dan properti di Indonesia, cukup besar proporsi yang terkena dampak tetapi tidak tertanggung oleh perlindungan asuransi.

Perusahaan asuransi umum di Indonesia juga mendapatkan keuntungan dari perlindungan melalui cakupan reasuransi mereka. Berdasarkan perkiraan industri, lebih dari 40 persen total premi bruto industri asuransi umum tahun 2011 direasuransikan, dengan sekitar 6 persen dari total premi bruto industri asuransi umum kepada perusahaan reasuransi di Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar dari premi industri sedang diserahkan ke reasuradur asing. Dalam pandangan Fitch, modal dasar perusahaan reasuransi dalam negeri yang rendah mendorong ketergantungan pada retrocessions luar negeri.

Dalam sektor asuransi jiwa, perusahaan asuransi diperkirakan tidak akan terpengaruh secara signifikan disebabkan tingkat korban jiwa yang rendah relatif terhadap lebih dari 200 juta penduduk di Indonesia dan penetrasi pasar asuransi jiwa yang rendah.

Fitch memperkirakan bahwa kerugian tertanggung akan lebih besar daripada kerugian banjir dari banjir tahun 2002 dan 2007 karena daerah yang terpengaruh lebih luas dan terkonsentrasi menuju pusat Jakarta, dimana nilai pertanggungan asuransi lebih tinggi daripada di daerah pedesaan.

Berdasarkan statistik Asosiasi Asuransi Umum Indonesi, klaim asuransi banjir yang terkait dengan banjir pada tahun 2002 dan 2007 masing-masing sebesar Rp 1,5 triliun dan Rp 2,1 triliun. Fitch akan terus mengevaluasi dampak sementara perkiraan kerugian diperbarui dan diungkapkan.

Fitch menekankan bahwa tetap penting bagi perusahaan asuransi untuk meningkatkan praktik manajemen risiko dan meningkatkan kecanggihan permodelan bencana mereka untuk lebih mempersiapkan diri untuk bencana di masa depan.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan permodelan risiko banjir yang lebih baik, yang sedang dikerjakan PT Asuransi MAIPARK Indonesia.

Permodelan risiko banjir yang dapat mencakupi pemetaan zona banjir yang lebih rinci dan membantu regulasi tarif, dapat berguna untuk memitigasi risiko pada masa depan dan inovasi produk untuk memberikan perlindungan risiko banjir yang lebih baik.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau