Nuklir korea utara

Rusia-China Ancam Veto Usul Resolusi Aksi Militer

Kompas.com - 23/02/2013, 02:40 WIB

MOSKWA, JUMAT - Dua negara adidaya sekutu Korea Utara, China dan Rusia, Jumat (22/2), menekankan akan menentang intervensi militer asing ke Korut, menyusul uji coba nuklir ketiga yang dilakukan negeri itu.

Walau sama-sama mengecam aksi kontroversial yang dilakukan Korut itu, baik Moskwa maupun Beijing bertekad memveto resolusi yang berisi rencana intervensi militer.

”Kami menentang kelanjutan uji coba nuklir yang kemarin dilakukan Korut. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa bisa merespons secara layak, tetapi tetap harus mengarah pada konteks perdamaian di semenanjung Korea,” ujar Menteri Luar Negeri China Yang Jiechi.

Yang bertemu Menlu Rusia Sergei Lavrov di Moskwa. Seusai pertemuan, keduanya menggelar jumpa pers. Sebagai anggota tetap DK PBB, kedua negara punya hak veto.

”China dan Rusia sepakat bahwa sangatlah penting untuk tidak membiarkan terjadi satu situasi yang akan berkembang menjadi awal (resolusi) intervensi militer ke Korut,” ujar Lavrov.

Sementara di China, Deputi Sekretaris Jenderal PBB Jan Eliasson di Beijing juga menyatakan harapannya agar China menggunakan pengaruhnya terhadap negeri sekutu terdekatnya itu, Korut. Eliasson berharap China memengaruhi Korut agar bersedia kembali ke meja perundingan terkait proses pelucutan senjata nuklir.

”Dunia mengharapkan China memanfaatkan pengaruhnya. Dengan demikian, China dapat memberi pengaruh positif pada perkembangan situasi saat ini,” ujar Jan. China diharapkan juga bisa menasihati Korut tentang betapa berbahayanya perkembangan dan langkah-langkah yang telah dilakukan Korut.

Menanggapi permintaan itu, pejabat China yang diutus menerima Eliasson menyebutkan, Pemerintah China akan berupaya maksimal untuk membantu.

Selama ini Korut sangat bergantung pada China, terutama secara ekonomi, perdagangan, dan investasi. Ketergantungan pada China termasuk dalam dua hal penting, yakni pasokan bahan bakar dan makanan.

Akses internet

Dari Pyongyang dilaporkan, Pemerintah Korut akan mengizinkan warga asing di negerinya untuk bisa mengakses internet melalui telepon seluler ataupun perangkat tablet. Akses layanan itu disediakan oleh Koryolink, perusahaan patungan antara Perusahaan Telekomunikasi dan Pos Korea serta Orascom Telecom Media and Technology Holding SAE dari Mesir.

Layanan yang tersedia mulai 1 Maret itu hanya diberikan kepada warga negara asing. Rakyat Korut tidak akan mendapat layanan tersebut dalam perangkat telepon seluler mereka.

Izin itu keluar hanya beberapa pekan setelah Pyongyang mengizinkan warga asing menggunakan telepon seluler. Sebelumnya, warga negara asing harus menyerahkan telepon seluler mereka di imigrasi saat tiba di negeri itu. (REUTERS/AP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau