Jalan-jalan

Sensasi Wisata Museum BI di Malam Hari

Kompas.com - 23/02/2013, 03:35 WIB

Mengunjungi museum pada siang hari mungkin sudah biasa. Namun, bagaimana jika dilakukan pada malam hari, pasti sensasinya luar biasa. Di benak mungkin akan terlintas berbagai persepsi, seperti suasana mistis, atau malah teringat akan film Night at The Museum besutan sutradara Shawn Levy.

Mengunjungi museum memang bukan untuk merasakan sensasi, melainkan untuk mengenal sejarah. Melalui museum bisa menjadi sarana pembelajaran sejarah dengan cara menyenangkan.

Komunitas Historia Indonesia (KHI) bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) mengadakan tur kunjungan ke Museum BI, Jakarta, pada Sabtu (16/2) malam. Tur ini dimulai pukul 19.00 yang diawali dengan pemutaran film sejarah berdirinya BI. Peserta tur beragam, mulai dari siswa sekolah dasar hingga orang tua. Tampak semburat penasaran dan antusiasme di wajah mereka.

Putri, seorang mahasiswi yang menjadi salah satu peserta, mengaku baru pertama kali dia ikut tur kunjungan museum pada malam hari. Dia pernah mengunjungi Museum BI pada siang hari. ”Saya penasaran karena biasanya museum itu terkesan seram di kala malam. Makanya saya tertarik,” ujarnya.

Tur keliling museum pada malam hari ini gratis sehingga banyak warga yang ingin ikut. Namun, penyelenggara membatasi hanya 120 peserta. Peserta ini lalu dibagi menjadi lima kelompok. Setiap kelompok didampingi seorang pemandu dari Museum BI dan KHI.

Pemandu sibuk menerangkan setiap peristiwa yang terbingkai di properti museum. ”Awalnya, di sini berdiri Rumah Sakit Binnen yang artinya rumah sakit yang dikelilingi benteng. Pada tahun 1828, RS Binnen dirobohkan dan didirikanlah De Javasche Bank (DJB). DJB ini merupakan cikal bakal BI setelah terjadi nasionalisasi pada 1 Juli 1953,” terang pemandu Iis Siti, saat memulai perjalanan keliling museum.

Pada hari biasa (siang hari) tidak semua ruangan di area seluas 14.000 meter persegi ini dapat dikunjungi. Ruangan direksi, ruang hijau, ruang penyebaran dan pengedaran uang hanya dibuka untuk acara-acara khusus. Pengunjung saat itu bisa masuk ke tiga ruangan ini.

Ruangan direksi adalah ruang kerja direksi BI. Ruang hijau adalah ruang yang biasa digunakan untuk rapat. Ruang penyebaran dan pengedaran uang, ruang yang berisi berbagai uang dari masa ke masa. Di ruangan ini terdapat pula alat pencetakan uang.

Detail museum

Selanjutnya, pengunjung dapat melihat lebih dekat tekstur uang dengan kaca pembesar. Bergantian, para peserta tur menempelkan mata ke kaca pembesar dan berdecak kagum ketika mengetahui uang itu terbuat dari emas, atau benda langka lainnya, seperti kain kuno.

Tur ini berdurasi sekitar satu jam. Akhir perjalanannya berada pada satu lapangan terbuka yang luas di dekat mushala museum. Di lapangan ini terdapat alat penghancur uang tidak laik edar. Lapangan dibalut oleh bangunan museum berarsitektur Eropa. Dari sini, tampak gedung modern berdiri menjulang seolah menjadi semiotik pertemuan antara peradaban yang lalu dan modern.

Lamat-lamat terdengar komentar setiap pengunjung. Vanessa, pengunjung berkewarganegaraan Jerman, mengatakan, dirinya terpikat akan konsep tur malam hari. Dia dan lima temannya yang semuanya warga negara Jerman menjadi mengerti akan sejarah Indonesia dan sejarah BI.

”Saya suka konsep tur ini dan museumnya. Tata bangunannya seperti kastil. Koleksinya relatif lengkap dan terjaga. Saya jadi mengerti sejarah Indonesia dan BI,” ungkapnya.

KHI, menurut rencana, akan mengadakan ”Tour the Busway” untuk mengunjungi tempat- tempat bersejarah bernuansa pecinan dalam rangka Cap Go Meh, Minggu (24/2) pukul 07.00-13.30. Peserta dijadwalkan bertemu di Halte Bundaran Hotel Indonesia, depan Plaza Indonesia. Peserta juga diminta berpakaian warna merah.

Tur ini terbuka untuk umum, dan gratis. Peserta hanya diminta membayar tiket bus transjakarta.

Menepis persepsi keliru

Asep Kambali, Ketua KHI, mengatakan, maksud diadakannya tur ini, untuk menepis anggapan keliru masyarakat terhadap tempat-tempat sejarah. Tempat sejarah biasanya diidentikkan dengan tempat angker. Akibatnya, cerita sejarah yang menjadi catatan perkembangan bangsa hilang tertelan mistisme tak bertanggung jawab.

Sejarah itu rekaman ingatan. Setiap orang pasti punya cerita sejarah diri. Begitu pula satu bangsa. Tanpa ingatan sejarah, orang itu akan amnesia. Tanpa ingatan sejarah bangsa, niscaya akan terjadi amnesia kolektif.

”Jika sudah demikian, kecintaan akan tanah air akan sirna. Makanya, dengan tur ini saya berusaha untuk mengubah ingatan keliru itu” kata Asep Kambali.

Selain itu, Asep juga punya kepedulian akan minimnya ketertarikan anak muda akan sejarah Indonesia. Asep melihat ini sebagai kausalitas dari pengajaran pelajaran sejarah yang hanya disesaki oleh perintah mengingat tahun dan nama tempat, bukan pemaknaan akan peristiwa sejarahnya.

”Pengajaran sejarah perlu berubah. Harus lebih menyenangkan dan lebih dapat dicerna. Untuk itu, KHI selalu mengadakan tur-tur ke tempat bersejarah. Tujuannya, agar cerita sejarah ini dapat dicintai masyarakat. Saya ingin mengingatkan, sejarah itu bukan soal tahun-tanggal dan nama tempat. Namun, soal pemaknaan peristiwa demi preserving the future of nation (melestarikan masa depan bangsa),” paparnya. (K03)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau