Kisruh PSSI Belum Pupus

Kompas.com - 23/02/2013, 03:49 WIB

Jakarta, Kompas - Meski telah berdamai, saling bersalaman, dan menjalin kesepakatan di depan Menteri Pemuda dan Olah Raga, kisruh internal Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia belum sepenuhnya selesai. Posisi sekretaris jenderal dan tim nasional masih jadi perdebatan.

Bergabungnya kembali empat mantan anggota Komite Eksekutif (Executive Committee/Exco) ke PSSI, yaitu La Nyalla Mattalitti, Tony Apriliani, Roberto Rouw, dan Erwin D Budiawan, yang ditandai dengan kedatangan mereka ke kantor PSSI di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (22/2), tidak otomatis membuat kisruh di PSSI sepenuhnya tuntas.

Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin menjelaskan, kedatangan dan kembalinya keempat mantan anggota Exco itu adalah atas perintah FIFA.

Akan tetapi, La Nyala dan kawan-kawan membawa sejumlah tuntutan. Mereka mendukung Badan Tim Nasional (BTN) yang telah dibentuk Ketua Umum dan penunjukan Luis Manuel Blanco Manuel sebagai pelatihnya. Hanya, dukungan itu bersyarat, ada wakil dari Liga Super Indonesia (ISL) di kepengurusan.

”Saya telah usulkan Pak Hardiansyah yang telah kami tunjuk sebagai Wakil Ketua BTN. Untuk manajer, saya juga punya usulan, bila perlu dilakukan fit and proper test (uji kelayakan dan kepatutan) untuk pemilihannya. Prinsipnya, para pemain ISL saya lepas apabila SK itu sudah ada di tangan kami,” kata La Nyalla.

Dia menambahkan, keempat anggota Exco yang kembali bergabung juga mendukung perhelatan Kongres PSSI 17 Maret 2013. Namun, peserta adalah pemegang hak suara yang hadir di Kongres Luar Biasa PSSI Solo.

Tuntutan kelompok KPSI lainnya adalah pemberhentian Halim Mahfudz sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI.

”Halim Mahfudz harus diganti karena dia sudah mengubah semua aturan dalam kesekjenan. Dia sudah melampaui wewenang Ketua Umum. Karena ketua umum dizalimi mereka ini, kami kasihan dan siap membantu Pak Johar demi memajukan sepak bola nasional. Kalau tidak diganti, tidak akan maju sepak bola kita,” ujar La Nyalla.

La Nyalla menyatakan tidak punya calon untuk sekjen. ”Saya memberikan kewenangan penuh kepada Pak Johar untuk memilih sekjen yang bisa diajak kerja sama,” katanya.

Tergantung dari rapat Exco

Atas tuntutan La Nyalla dan kawan-kawan itu, Djohar Arifin Husin menjelaskan, semua tuntutan akan dibawa ke rapat Exco. ”Nanti kami bahas di rapat Exco. Saya harap ada keputusan secepat mungkin karena agenda yang penting sudah di depan mata,” ujarnya.

Halim Mahfudz, menjawab wartawan, menjelaskan, kehadirannya di PSSI semata-mata untuk menegakkan statuta. ”Jadi, tidak perlu mencari-cari alasan yang begini atau begitu. Kalau saya dianggap sudah menyelesaikan statuta, saya siap minggir, kok. Tapi, kalau saya diminta keluar karena alasan-alasan yang macam-macam, saya akan pertanyakan itu,” katanya.

Halim Mahfudz menguraikan, kembalinya keempat anggota Exco itu adalah hasil dari KLB Palangkaraya. KLB itu menyepakati juga revisi Statuta PSSI dan unifikasi liga. ”Kalau mereka kembali, itu artinya mereka menerima keputusan KLB Palangkaraya. Tapi, kan, tidak bisa hanya menerima satu saja, yang lainnya pun harus mereka terima,” ujarnya. (K09/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau