"Apel Busuk" Balotelli, Taktik "Dagang" Berlusconi

Kompas.com - 24/02/2013, 05:22 WIB

MILAN, KOMPAS.com - Presiden AC Milan, Silvio Berlusconi, mengaku punya alasan tersendiri ketika mengibaratkan Mario Balotelli sebagai apel busuk. Pernyataan tersebut diungkapkannya agar harga Balotelli, yang ketika itu masih bermain di Manchester City, tidak naik.

Awal Januari lalu, Berlusconi mengaku tidak pernah terlintas dipikirannya untuk merekrut Balotelli yang ketika itu santer diberitakan akan berlabuh ke San Siro. Balotelli, kata dia, seperti apel busuk yang dapat memengaruhi para pemain lain di Milan terkait dengan segala sikap kontroversialnya.

Pada akhirnya, Balotelli resmi direkrut Milan dengan durasi kontrak 4,5 tahun dengan gaji sebesar 4 juta euro (sekitar Rp 52 miliar) per musim. Sebelum kesepakatan tersebut, Berlusconi pun sempat meminta maaf terkait ucapannya kepada SuperMario.

"Itu (sebutan apel busuk) adalah strategi yang disarankan Adriano Galliani (Wakil Presiden Milan) untuk memastikan agar harga (Balotelli) tidak naik," ungkap Berlusconi seperti dilansir Football Italia.

"Hari ini, saya berbicara keras tentang Bojan Krkic dan Galliani menendang kaki saya di bawah meja. Dia melakukan yang benar untuk mengawasi hal-hal seperti itu," tambahnya.

Lebih lanjut, Berlusconi juga mengomentari perihal imbauan kelompok suporter Inter agar tidak mencemooh Balotelli secara rasial pada Derby della Madonnina, Minggu (24/2/2013). Mantan Perdana Menteri Italia itu pun satu suara dengan para Interisti terkait imbauan itu.

"Itu (cemooh rasisme) sangat tidak masuk akal dan biadab, terutama karena Balotelli juga warga Italia. Kita harus juga mengubah undang-undang untuk membantu orang mendapatkan kewarganegaraan ketika mereka tinggal dan bekerja di sini secara legal," kata Berlusconi.

"Saya berharap Balotelli dapat terus jadi pemain yang sederhana seperti saat ini. Di luar lapangan, dia sangat tenang dan santai, sementara di lapangan dan kamar ganti dia pemain profesional. Saya juga senang tiga penyerang kami (Balotelli, Stephan El Shaarawy, dan M'Baye Niang) memunyai gaya rambut sama. Itu adalah simbol khas mereka," tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau