Normalisasi waduk pluit

Aparat Bongkar Bangunan di Tepi Kali Opak

Kompas.com - 26/02/2013, 02:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Aparat dan pekerja membongkar sekitar 60 bangunan di tepi Kali Opak, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (25/2). Langkah ini merupakan bagian dari normalisasi sungai dan Waduk Pluit pascabanjir Januari 2013.

Bangunan yang dibongkar, antara lain, warung, bengkel, hunian nonpermanen, serta sarana ibadah dan madrasah. Pembongkaran itu melibatkan polisi, satuan polisi pamong praja, dan pekerja dengan satu alat berat.

”Saya menerima meski harus kehilangan warung yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga,” kata Odang (43), pemilik warung di tepi Kali Opak, warga RT 06 RW 07 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan.

Sudah tujuh tahun, Odang dan Sukridi (47), berdagang di lokasi itu. Odang mengaku sudah mengajukan izin ke aparat pemerintah setempat untuk pendirian bangunan pada 2005.

”Sejak awal kami siap jika warung akan dibongkar karena memang berdiri di dekat sungai. Sejauh ini, belum ada ide pindah ke mana,” ujar Odang.

Sejumlah warga pemilik bangunan mengaku mendapat uang kerohiman Rp 1 juta untuk pembongkaran tersebut. Mereka mendapat sosialisasi dari pihak perwakilan pelaksana, satu atau dua pekan sebelumnya.

Tak ada penolakan warga. Pekerja meratakan bangunan di tepian kali sepanjang 200 meter itu selama empat jam. Sejumlah orang berusaha menyelamatkan perabot, pakaian, dan barang, sesaat sebelum pembongkaran dilakukan, tak ada yang menolak atau menghalangi aparat.

Normalisasi

Koordinator penanganan pasca-banjir Waduk Pluit, Heriyanto, menyebutkan, pihaknya juga telah membersihkan sekitar 600 meter tepian Kali Opak dan Pakin dari bangunan. Lahan bekas bangunan akan dibangun menjadi jalan inspeksi untuk memudahkan pengerukan endapan dan pembersihan saluran.

Heriyanto menambahkan, lebar badan sungai akan dinormalkan menjadi 30 meter. Sementara itu kedalamannya akan ditambah dari semula 1-2 meter menjadi 5 meter dengan cara pengerukan endapan.

”Lahan bekas bangunan dibersihkan, diratakan, dan dibeton menjadi jalan inspeksi dengan lebar 7,5 meter. Rencananya, jalan dibangun di kedua sisi saluran,” tutur Heriyanto.

Pekerja melanjutkan pengerukan endapan dengan alat berat dan ponton di sungai dan Waduk Pluit. Menurut Heriyanto, sekitar 50 persen dari 60 hektar area genangan waduk, kedalamannya ditambah 1-2 meter.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Jakarta Utara Tri Kurniadi mengatakan, pemerintah daerah akan membongkar bangunan di area genangan untuk normalisasi Waduk Pluit.

”Ada sebagian penghuni yang menolak pindah ke rumah susun. Warga yang belum punya rumah mayoritas mau pindah,” ujarnya.

Perwakilan dari Dinas Perumahan DKI Jakarta, Hendriansyah menyebutkan, kini, ada 1.774 warga korban banjir yang mengantre pindah ke rusun. Mereka akan diundi untuk menghuni 380 unit rumah yang telah siap di Rusun Marunda dan Rusun Waduk Pluit. (MKN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau