JAKARTA, KOMPAS -
Bangunan yang dibongkar, antara lain, warung, bengkel, hunian nonpermanen, serta sarana ibadah dan madrasah. Pembongkaran itu melibatkan polisi, satuan polisi pamong praja, dan pekerja dengan satu alat berat.
”Saya menerima meski harus kehilangan warung yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga,” kata Odang (43), pemilik warung di tepi Kali Opak, warga RT 06 RW 07 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan.
Sudah tujuh tahun, Odang dan Sukridi (47), berdagang di lokasi itu. Odang mengaku sudah mengajukan izin ke aparat pemerintah setempat untuk pendirian bangunan pada 2005.
”Sejak awal kami siap jika warung akan dibongkar karena memang berdiri di dekat sungai. Sejauh ini, belum ada ide pindah ke mana,” ujar Odang.
Sejumlah warga pemilik bangunan mengaku mendapat uang kerohiman Rp 1 juta untuk pembongkaran tersebut. Mereka mendapat sosialisasi dari pihak perwakilan pelaksana, satu atau dua pekan sebelumnya.
Tak ada penolakan warga. Pekerja meratakan bangunan di tepian kali sepanjang 200 meter itu selama empat jam. Sejumlah orang berusaha menyelamatkan perabot, pakaian, dan barang, sesaat sebelum pembongkaran dilakukan, tak ada yang menolak atau menghalangi aparat.
Koordinator penanganan pasca-banjir Waduk Pluit, Heriyanto, menyebutkan, pihaknya juga telah membersihkan sekitar 600 meter tepian Kali Opak dan Pakin dari bangunan. Lahan bekas bangunan akan dibangun menjadi jalan inspeksi untuk memudahkan pengerukan endapan dan pembersihan saluran.
Heriyanto menambahkan, lebar badan sungai akan dinormalkan menjadi 30 meter. Sementara itu kedalamannya akan ditambah dari semula 1-2 meter menjadi 5 meter dengan cara pengerukan endapan.
”Lahan bekas bangunan dibersihkan, diratakan, dan dibeton menjadi jalan inspeksi dengan lebar 7,5 meter. Rencananya, jalan dibangun di kedua sisi saluran,” tutur Heriyanto.
Pekerja melanjutkan pengerukan endapan dengan alat berat dan ponton di sungai dan Waduk Pluit. Menurut Heriyanto, sekitar 50 persen dari 60 hektar area genangan waduk, kedalamannya ditambah 1-2 meter.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Jakarta Utara Tri Kurniadi mengatakan, pemerintah daerah akan membongkar bangunan di area genangan untuk normalisasi Waduk Pluit.
”Ada sebagian penghuni yang menolak pindah ke rumah susun. Warga yang belum punya rumah mayoritas mau pindah,” ujarnya.
Perwakilan dari Dinas Perumahan DKI Jakarta, Hendriansyah menyebutkan, kini, ada 1.774 warga korban banjir yang mengantre pindah ke rusun. Mereka akan diundi untuk menghuni 380 unit rumah yang telah siap di Rusun Marunda dan Rusun Waduk Pluit.