Amankah Minuman Isotonik Bagi Penderita Hipertensi?

Kompas.com - 26/02/2013, 09:12 WIB

KOMPAS.com - Minuman isotonik merupakan minuman yang mengandung ion di antaranya ion natrium dan klorida yang merupakan penyusun dari garam dapur. Sedangkan seperti diketahu, konsumsi garam dapur perlu dibatasi terutama bagi mereka yang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi. Namun benarkah minuman isotonik tidak aman bagi penderita hipertensi?

Dokter spesialis anak Muzal Kadim mengatakan, minuman isotonik aman saja bila dikonsumsi bagi penderita hipertensi. Hal ini dikarenakan kandungan natrium dan klorida dalam minuman jenis ini sangatlah sedikit jika dibandingkan jumlah garam dapur yang disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per-harinya yaitu 2.400 mg atau 1.500 mg bagi penderita hipertensi.

"Kandungan natrium pada satu liter minuman isotonik hanya seujung sendok teh, sehingga masih aman dikonsumsi oleh penderita hipertensi," ungkap konsultan pencernaan dan hati dari Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) itu saat ditemui Sabtu (23/2/2013) lalu di Jakarta.

Hipertensi menyebabkan tekanan darah di pembuluh darah arteri meningkat sehingga jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit seperti stoke, serangan jantung, gagal jantung, dan penyakit kardiovaskuler lainnya. Selain itu hipertensi juga jadi penyebab penyakit ginjal kronik.

Menurut Muzal, sebaiknya penderita hipertensi lebih membatasi konsumsi garam dari makanan. "Batas konsumsi garam bagi orang hipertensi adalah sekitar setengah sendok teh garam dapur. Maka setelah mengonsumsi minuman isotonik, sebaiknya pasien pun mengurangi konsumsi garam dari makanan hingga tidak melebihi batas maksimal," paparnya.

Kendati demikian, sebaiknya Anda pun tidak mengonsumsi berlebihan minuman isotonik saat tidak melakukan aktivitas fisik yang menyita banyak cairan tubuh. "Fungsi minuman isotonik adalah untuk mengganti cairan yang hilang saat beraktivitas. Aktivitas fisik yang berat dan mengeluarkan banyak keringat lah yang paling membutuhkan minuman isotonik," tandas dokter dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau