Jokowi: Harus Ada Alat Pemadam di Permukiman Padat

Kompas.com - 27/02/2013, 16:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tingginya angka kebakaran di Ibu Kota membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutar otak untuk pencegahan dan penanganannya. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menginginkan ada alat pemadam kebakaran di setiap permukiman padat penduduk, seperti pawang geni.

"Ya, mobil pemadam kebakaran terkendala macet, kelamaan. Jadi, memang harus ada alat pemadam kebakaran yang ditempatkan di kampung-kampung padat," kata Jokowi seusai meninjau bekas lokasi kebakaran, di RW 12, Kelurahan Pademangan Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (27/2/2013).

Mantan Wali Kota Surakarta ini menyampaikan bahwa penempatan alat pemadam kebakaran di permukiman padat akan dikaji lebih lanjut. Ia memberikan contoh disediakannya pawang geni, atau alat pemadam lain yang bisa berpindah tempat dengan mudah.

Pawang geni adalah alat pemadam kebakaran yang pertama kali diperkenalkan saat Jokowi masih memimpin Surakarta. September 2012 lalu, Jokowi meresmikan alat yang memiliki roda sehingga mudah dipindah sesuai kebutuhan.

Perawatan pawang geni pun mudah dan tidak membutuhkan biaya besar. Untuk sekarang, pawang geni baru dipakai sebagai percobaan dan dititipkan kepada masyarakat. Harga per unitnya Rp 10,3 juta.

"Yang penting bisa dipindah-pindah, bisa juga evaluasi dengan cara lain, ada yang bisa pakai sepeda motor, tapi memang harus diputuskan caranya," ujar Jokowi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau