Jakarta, Kompas -
Sejumlah kendaraan bermesin diesel yang hendak mengisi bahan bakar di dua SPBU tersebut terpaksa memutar arah mendapati stok solar yang habis. Asisten Pengawas SPBU 14 251 519 di Jalan Sawahan, Basri, Kamis (28/2), mengatakan, pasokan solar bersubsidi yang datang ke SPBU itu kini lebih cepat habis.
Jika sebelumnya satu tangki BBM solar bersubsidi dengan kapasitas 14.000 liter cukup untuk melayani permintaan sekitar tiga hari, dalam beberapa hari belakangan hanya cukup untuk satu hari. ”Dalam satu minggu, pasokan solar datang dua kali atau tiga kali,” kata Basri.
Akan tetapi, sejumlah SPBU lain, seperti yang berada di Jalan Batang Arau dan Jalan Ir H Juanda, terlihat melayani pembelian solar.
Asisten Customer Relations PT Pertamina Marketing and Trading Region 1, yang membawahkan Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau, Sonny Mirath saat dihubungi pada hari yang sama mengatakan, kekurangan pasokan solar bersubsidi itu terkait dengan aturan mengenai pengendalian penggunaan BBM.
Dari Batam, Kepulauan Riau, dilaporkan, sebanyak 20 dari 35 SPBU di Batam mengumumkan kehabisan solar bersubsidi sejak Senin.
Sementara itu, anggaran dalam APBD Kota Salatiga, Jawa Tengah, untuk pembelian bahan bakar minyak untuk mobil dinas tahun 2013 membengkak. Agar beban APBD tak terlalu berat, Pemerintah Kota Salatiga melakukan penghematan.
Wali Kota Salatiga Yulianto mengatakan, anggaran untuk BBM pasti naik karena harga BBM non-bersubsidi dua kali lipat lebih tinggi dari BBM bersubsidi. Namun, tidak ada perubahan dalam volume BBM yang direncanakan.