Jakarta, Kompas -
Demikian disampaikan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo pada acara pembukaan Musyawarah Besar (Mubes) VI Badan Musyawarah Betawi, di Gedung Serbaguna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (2/3).
Sebagai bentuk komitmen itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI akan mengharuskan penggunaan ornamen Betawi pada bangunan-bangunan di Jakarta.
Pemprov DKI juga akan menyelesaikan pembangunan kawasan baru di Kampung Betawi Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Saat ini, di kawasan tersebut tengah dibangun beberapa fasilitas tambahan, seperti ruang pementasan, galeri, dan rumah adat Betawi.
”Sebuah kota itu harus ada identitas dan karakternya. Karakter Kota Jakarta bisa kita lihat dari karakter rumah Betawi dengan ornamen khasnya (misalnya bagian atap berbentuk segitiga berjajar yang biasa disebut gigi balang). Ke depan, ornamen tersebut harus dipakai hotel-hotel, restoran, bank, serta kantor-kantor, termasuk kantor kecamatan dan kelurahan,” kata
Komitmen lain adalah pembangunan Masjid Raya Jakarta yang keseluruhan bangunannya menggunakan karakter Betawi. Masjid tersebut akan dibangun di tanah seluas 18 hektar di Jakarta Barat. Nama yang dipersiapkan adalah Masjid Raya Guru Mansyur.
Pembiasaan warga Jakarta untuk menggunakan baju Betawi sekali dalam seminggu juga menjadi bagian dari komitmen yang akan dilakukan Pemprov DKI.
”Program ini sudah kami mulai sejak Januari kemarin dan sudah dilaksanakan 68.000 pegawai negeri sipil di DKI Jakarta. Untuk itu, akan dibuat peraturan gubernur agar hal yang sama juga diterapkan di hotel, restoran, kantor-kantor, termasuk rumah sakit,” papar Jokowi.
Pengenalan kebudayaan dan filosofi Betawi juga harus dilakukan sejak usia dini. Oleh karena itu, program muatan lokal untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama harus segera dilakukan.
”Saat ini kami tengah melakukan proses pengumpulan bahan dan materi,” ungkapnya.
Pemprov DKI juga akan menyelesaikan Pusat Kebudayaan Betawi di eks Kodim Jakarta Timur, Gedung Museum MH Thamrin, serta pembangunan revitalisasi makam Pangeran Jayakarta. Jokowi yakin keseluruhan rencana tersebut bisa diselesaikan dua tahun ke depan. ”Anggarannya sudah siap,” kata Jokowi.
Sejarawan JJ Rizal mengapresiasi ide Jokowi mengangkat kebudayaan Betawi. Namun, menurut dia, hal tersebut perlu dieksplorasi secara mendalam dan tersistem agar mampu memperlihatkan kekuatan ide tersebut.
Menurut dia, orang tidak cukup hanya diwajibkan mengenakan pakaian khas Betawi atau memakai ornamen Betawi. ”Banyak yang memakai pakaian adat, tetapi tidak mengerti. Kita juga punya ondel-ondel, tetapi kearifan lokalnya tidak mengerti,” kata Rizal.
Ketua Umum Badan Musyawarah Betawi Nachrowi Ramli berharap kebudayaan Betawi menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari etnis Indonesia. Betawi juga hadir bersama suku lainnya.