Gerindra: SBY Sebaiknya "Blusukan", Jangan ke Luar Negeri Terus

Kompas.com - 07/03/2013, 12:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon melayangkan kritik atas agenda Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melakukan kunjungan ke luar negeri. Menurutnya, kunjungan kerja ke Jerman dan Hungaria hanya pemborosan anggaran negara. Ia menyoroti salah satu agenda Presiden di Jerman, yakni menghadiri Pameran Pariwisata Internasional ITB (Internationale Tourismus Borse) sebagai langkah promosi pariwisata Indonesia. Padahal, kata Fadli, kondisi ekonomi negara-negara di Eropa tengah krisis.

"Di tengah kondisi krisis, sulit menjual pariwisata di Eropa. Mereka masih berjuang keras bertahan hidup. Jumlah wisatawan Eropa ke Indonesia pun turun enam persen. Jadi, promosi wisata di tengah krisis pasti tak efektif," kata dia.

Ia juga menilai, kunjungan kerja Presiden ke Jerman dan Hungaria waktunya terlalu berdekatan dengan kunjungan ke luar negeri sebelumnya. Pada 30 Januari-7 Februari 2013 , Presiden melakukan kunjungan ke empat negara, yakni Liberia, Nigeria, Arab Saudi, dan Mesir. Lalu, pada November 2012, Presiden bertolak ke Kamboja dan Pakistan selama tujuh hari.

"Hampir setiap dua bulan Presiden ke luar negeri. Kapan bisa fokus urusan dalam negeri? Seharusnya SBY datang ke Papua ketika 8 prajurit TNI dan 4 warga sipil tewas beberapa waktu lalu," kata Fadli.

Fadli juga mengkritik tingginya angggaran perjalanan dinas untuk pejabat negara dibanding pemerintahan sebelumnya. Total alokasi anggaran untuk perjalanan dinas para pejabat negara dari APBN, kata dia, mencapai Rp 21 triliun.

"Lebih baik di akhir periodenya SBY fokus pada urusan dalam negeri. Masih banyak masalah yang perlu dibenahi. Kunjungan ke luar negeri banyak hanya seremonial dan pencitraan. Blusukan di dalam negeri harus lebih diperbanyak," ujar Fadli.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau