PEKANBARU, KOMPAS.com — Riau dan Sumatera Utara semakin dikenal sebagai daerah transit dan peredaran narkotika di Pulau Sumatera. Pintu masuk di Riau bisa lewat laut, dari Dumai atau Bengkalis dan lewat Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Di Sumut, barang haram itu masuk lewat Tanjung Balai dan Kota Medan.
Kedua provinsi bertetangga itu seakan bersinergi. Apabila kepolisian dan Bea dan Cukai Riau sedang menggalakkan pemeriksaan, pemasok asal negara tetangga, terutama Malaysia, akan beralih ke Sumatera Utara. Begitu pula sebaliknya.
Dalam sebulan terakhir, kepolisian, Badan Narkotika Nasional Riau, dan Bea Cukai kerap melakukan razia. Hasilnya, pada 18 Februari 2013, pihak Bea dan Cukai Bandara SSK II Pekanbaru menangkap RF, seorang mahasiswi asal Pekanbaru, karena membawa sabu seberat 512 gram dari Malaysia. Menurut RF, sabu itu diberikan pacarnya, seorang asing berkulit hitam, yang dikenal lewat jalur dunia maya di Kuala Lumpur.
Gencarnya pemeriksaan itu tidak membuat pasokan sabu di Riau berhenti. Hari Kamis (7/3/2013) kemarin, jajaran Polda Riau menangkap Arif, salah seorang bandar narkoba yang sudah lama menjadi target incaran. Dari tangan Arif disita narkoba jenis sabu 400 gram. Dari pemeriksaan awal, Arif mendapat pasokan sabu dari rekannya BL di Tanjung Balai, Asahan, Sumut.
Penangkapan Arif bermula dari penangkapan seorang agen kecil, Zul (32), warga Marpoyan, Pekanbaru. Zul kedapatan membawa sabu 5 gram. Zul akhirnya berkicau, mendapat barang dari Peri (27), warga Labuh Baru, Pekanbaru. Peri pun digeledah dan ditemukan sabu 10 gram. Peri akhirnya membuka kartu bahwa barang miliknya itu didapat dari seorang bandar bernama Arif.
Polisi akhirnya mengatur jebakan untuk menangkap Arif. Dari tangannya diperoleh sabu seberat 400 gram. Menurut Kepala Kepala Subdirektorat II Reserse Narkoba Polda Riau Ajun Komisaris Ramlan, Jumat (8/3/2013), Arif merupakan anggota pengedar sabu antarprovinsi di Sumatera.
"Kami sudah mengincarnya sejak tiga bulan lalu," ujar Ramlan.
Meski tidak sebesar Medan (Sumut), Pekanbaru adalah daerah transit dan pengguna narkoba yang terbilang besar di kancah nasional. Kondisi itu diakui oleh Kepala Deputi Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional Vincentius Sambudiyono di Pekanbaru dalam pertemuan sejumlah pemuka masyarakat dan beberapa instansi di Pekanbaru, Selasa (5/3/2013).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang