Krisis sabah

Berharap Kondisi Aman Kembali ke Kebun Sawit

Kompas.com - 11/03/2013, 02:33 WIB

Embara Budi, kompleks perumahan karyawan perusahaan sawit Felda Sahabat di Lahad Datu, Sabah, Malaysia, mendadak ramai, Jumat (8/3), saat jajaran Konsulat Republik Indonesia di Tawau datang. Tawa dan canda pun terdengar dari tempat relokasi tenaga kerja Indonesia yang bekerja di perkebunan itu.

Sebanyak 108 TKI dari Felda Sahabat 17, sejak 14 Februari lalu, dipindahkan ke Embara Budi bersama anggota keluarga mereka. Total ada 193 warga Indonesia yang direlokasi.

Tempat kerja mereka, Felda Sahabat 17, letaknya bersebelahan Kampung Tanduo, yang menjadi pusat kontak senjata antara kelompok penyusup yang mengaku keturunan Kesultanan Sulu dari Filipina dan pasukan Pemerintah Malaysia. Hanya beberapa hari setelah kelompok bersenjata mendarat, para pekerja langsung dipindahkan ke Embara Budi, 9 kilometer dari Kampung Tanduo.

Selain mereka, sekitar 1.100 warga Malaysia penduduk sekitar kampung Tanduo juga ikut direlokasi ke Embara Budi. Kompleks ini dijaga ketat aparat Polis Diraja Malaysia yang bersenjata. Karena itu, Agus (41) salah satu TKI di Embara Budi, tak merasa khawatir. Meskipun fasilitas di tempat ini berbeda dari mes karyawan yang ditempati sebelumnya, ia tak mempermasalahkan selama keamanan keluarga dan gaji terjamin.

Di Embara Budi, mereka membaur dalam beberapa ruangan. Mereka tak sempat membawa banyak barang. Tinggal dan tidur bersama-sama serta berdesak-desakan memang kurang nyaman. Yang penting, ada tempat aman untuk mereka.

Agus, lelaki asal Jeneponto, Makassar, bercerita, pada 12 Februari pagi, dari mes dia melihat bendera berkibar di Kampung Tanduo. Dia juga melihat orang-orang berbaris, tetapi tak berpakaian militer.

”Saya tak tahu itu bendera apa. Saat itu saya tak berani mendekat. Perasaan saya sudah tidak enak. Namun, perusahaan segera merelokasi kami. Ketika terjadi tembak-menembak, kami sudah aman di sini,” katanya.

Amir Lukman, TKI asal Makale, Toraja, yakin konflik bersenjata segera berakhir. ”Saya bilang ke teman-teman, kita aman karena kita dipegang oleh Pemerintah Malaysia, juga Pemerintah Indonesia,” kata Amir dengan bersemangat.

Widoratno Rahendra Djaya, Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya Konsulat RI di Tawau, memberi semangat kepada para TKI dan meminta mereka tidak putus asa.

”Ini adalah cobaan, tamu tak diundang, tak ada yang menginginkan. Yang lolos cobaan, dia menjadi pemenang. Perusahaan sudah memberi yang terbaik. Tunjukkan kalian adalah tulang punggung perusahaan,” ujarnya.

Harapan agar terwujud suasana tenang disampaikan Nursiah, TKI asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang bekerja di Felda Sahabat 12. Selepas kerja, ia datang ke Embara Budi untuk menengok rekannya, saling membagi cerita dan semangat.

”Sudah empat kali saya mendengar suara seperti ledakan bom. Saya sampai menangis karena takut. Semoga cepat berakhir kondisi ini, dan keadaan membaik seperti semula,” ujar Nursiah, ibu enam anak yang bekerja di perkebunan sawit selama 20 tahun terakhir.

Roserun, Manajer Umum Felda Sahabat Regional Selatan, mengungkapkan, dalam kondisi seperti ini tak ada yang bisa memberi jaminan keamanan 100 persen. ”Pemerintah sudah meningkatkan pengamanan, dan saya rasa itu cukup. Jarak tempat ini ke Tanduo hanya 9 kilometer, tetapi pengamannya berlapis-lapis,” ujarnya.

Perusahaan bertanggung jawab pada tenaga kerja. Mereka tak bisa bekerja bukan karena disengaja. ”Yang tidak bekerja, gajinya masih dibayar. Tentang keselamatan, kami pun tak mau ambil risiko. Jika ada kawasan berbahaya, aktivitas di perkebunan kami hentikan,” katanya.

TKI yang bekerja di perusahaan sawit adalah tulang punggung industri sawit di Malaysia. Penghasilan dari bekerja di perusahaan sawit memberi nafkah bagi pekerja. Keduanya saling membutuhkan, tetapi sebulan terakhir keamanan mereka terenggut.(Lukas Adi Prasetya, dari Sabah, Malaysia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau