Pemda Berperan Penting dalam Penerapan Kurikulum 2013

Kompas.com - 11/03/2013, 08:24 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com — Keberhasilan kurikulum baru yang akan diterapkan pada pertengahan Juli mendatang juga tergantung pada peran pemerintah daerah (Pemda). Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golongan Karya, Zul Fadhli, mengatakan bahwa pemda harus mempersiapkan dengan baik jelang penerapan kurikulum baru ini.

Pasalnya, masalah guru dan distribusi buku kurikulum baru ini harus dijamin juga oleh pemda agar berjalan baik dan sesuai dengan arahan pusat. Tanpa peran pemda yang baik, kurikulum baru tidak akan berjalan optimal.

"Penentu keberhasilan adalah peran pemda. Pemda harus menjamin kesiapan guru saat dilatih, dan distribusi buku gratis benar-benar harus sampai pada siswa dan guru," kata Zul saat mendampingi menteri pendidikan dan kebudayaan pada Sosialisasi Kurikulum 2013 di Hotel Mahkota, Pontianak, Minggu (10/3/2013).

Ia juga menambahkan bahwa perubahan kurikulum ini merupakan sebuah terobosan besar yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Meski membuat banyak pihak tercengang dan menimbulkan banyak kontroversi, tetapi revisi kurikulum memang diperlukan mengingat posisi pendidikan Indonesia saat ini dalam keadaan tertinggal.

"Kalau ibarat lomba lari, tidak bisa dengan lari biasa. Kita harus melakukan lompatan yang besar dan memang sudah saatnya melakukan perubahan besar," jelas Zul.

Untuk mempersiapkan berbagai pihak dalam menyambut perubahan besar ini, langkah yang harus dilakukan adalah sosialisasi secara berkala. Pasalnya dengan sosialisasi yang rutin, pihak yang akan menjadi elemen penentu keberhasilan kurikulum baru ini dapat lebih paham.

"Kita pahami perubahan kurikulum ini pasti ada resistensi. Apalagi waktu pelaksanaannya sangat dekat. Tapi ternyata setelah sosialisasi, terjadi perubahan sikap dan pandangan," ungkap Zul.

"Dengan demikian, jangan lelah untuk terus sosialisasi karena ini harus dikembangkan di semua wilayah agar para guru siap," tandasnya,

Kalbar siap

Saat Mendikbud M Nuh melakukan sosialisasi Kurikulum 2013 di Pontianak, Kalbar, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya menyatakan kesiapan daerahnya untuk menjalankan kurikulum baru pada Juli mendatang. Christiandy mengaku memahami perubahan kurikulum yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena kurikulum memang selalu mengalami pembaharuan sejak zaman kemerdekaan.

"Perubahan ini wajar terjadi. Setidaknya ada empat hal yang membuat kurikulum ini berubah dan pendidikan harus dikembangkan," katanya.

Dari empat hal tersebut, yang pertama menjadi alasan dari perubahan kurikulum adalah tantangan masa depan yang meliputi masalah lingkungan hidup dan kemajuan teknologi. Alasan kedua adalah kompetisi masa depan yang mencakup kemampuan komunikasi, kemampuan bersikap kritis, dan toleransi terhadap pandangan berbeda. Alasan ketiga adalah permasalahan sosial yang mengemuka, dan alasan keempat adalah untuk membuktikan perspektif pendidikan tidak hanya memberatkan sisi kognitif saja.

Berdasarkan empat hal tersebut, Christiandy menegaskan Kalbar mendukung penuh penerapan Kurikulum 2013 dan akan segera berkoordinasi dengan seluruh Kepala Dinas Pendidikan se-Kalimantan Barat untuk menjalankan kurikulum baru ini. Dengan koordinasi yang akan dilaksanakan tersebut, diharapkan kesiapan pelaksanaan kurikulum baru akan terjamin dan tidak mengalami kendala.

"Saya minta pada semua Kepala Dinas Pendidikan dan juga para guru untuk berpartisipasi aktif dalam menerapkan kurikulum ini. Kita beruntung yang menjelaskan kurikulum ini langsung dari menteri," tandasnya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau