Siswi SMK Diperkosa

Kompas.com - 14/03/2013, 03:53 WIB

Jakarta, Kompas - Kasus kekerasan seksual kembali terjadi di Jakarta Timur. Seorang siswi kelas I SMK di Jaktim, berinisial NR (15), diduga diperkosa oleh sekelompok remaja di area kebun kosong di Cijantung, Jaktim.

NR kini dirawat di RS Polri Kramat Jati, ditangani oleh tim dokter yang terdiri dari empat dokter spesialis dan satu psikolog. Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, NR mengalami pemerkosaan itu pada Senin (11/3) malam. Kemudian dengan bantuan anggota polisi, korban dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati pada Selasa (12/3) dini hari.

Rabu (13/3), didampingi Komisaris Besar Sarwoto dari Humas RS Polri Kramat Jati, perwakilan tim dokter dan psikolog yang menangani NR memberikan penjelasan kepada wartawan. Hadir dr Arif Wahyono SpF dan dr Theresia AD SpA mewakili tim dokter. Dua dokter lainnya di dalam tim itu adalah dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dan dokter psikiatri.

Arif mengatakan, kondisi kesehatan NR kini berangsur membaik, dan tekanan darahnya pun stabil. Akan tetapi, ada gangguan psikis pada korban sehingga butuh perawatan intensif.

”Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan terkait kondisi NR. Selebihnya, pemeriksaan pada NR digunakan untuk pemeriksaan kepolisian,” katanya.

Arif juga menjelaskan ada trauma pada bagian tubuh korban. Trauma pada organ vital itu kini diobservasi. Pendarahan yang dialami itu juga karena korban sedang mengalami siklus haid.

Sementara itu, menurut Theresia, selain fisik korban cukup sehat, korban juga mampu berkomunikasi lancar dengan tim dokter yang memeriksanya. ”Hanya memang ada trauma psikologi yang dialami korban, dan kami pun prihatin,” katanya.

Namun, saat dikonfirmasi, Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Jaktim Ajun Komisaris Endang Sri Lestari mengaku belum memperoleh laporan pemerkosaan NR.

Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya kasus yang menimpa NR. Kasus itu kini ditangani Polres Jaktim, polisi yang langsung membuat sendiri laporan itu, bukan karena aduan. Pasalnya, korban belum melapor, dan masih bisa ditanya oleh penyidik. Korban masih dirawat di rumah sakit untuk pemulihan kesehatannya.

Akan tetapi, polisi sudah melakukan penyelidikan dengan mengambil keterangan saksi lainnya. Sementara itu, tim penyelidik Polres Jaktim sampai saat ini terus memburu para pelaku pemerkosaan itu.

Melalui jejaring sosial

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas, NR mengalami pemerkosaan berawal dari perkenalannya dengan seorang remaja di jejaring media sosial Facebook. NR lalu menemui remaja itu dan diajak ke Lapangan Turna, Cijantung. Menjelang malam hari, NR dibawa ke kebun kosong dekat lapangan itu. NR lalu diperkosa oleh kenalannya bersama rekan-rekannya.

Saat ditelusuri ke rumah korban di kawasan Ciracas, rumahnya tampak kosong. Menurut warga setempat, NR dikenal anak yang pendiam dan jarang bergaul dengan teman sebaya di lingkungan rumahnya. Ibunya adalah guru SD.

”Anaknya pendiam. Kalau sekolah, ya ke sekolah. Habis sekolah, langsung pulang ke rumah. Itu sudah kebiasaannya,” kata salah satu sahabat korban, R (15), yang tinggal tak jauh dari rumah korban,

Saat dikonfirmasi ke sekolah korban, salah satu SMK pariwisata di Jaktim, NR merupakan siswi kelas I di sekolah itu. Namun, hingga saat ini pihak sekolah belum memperoleh laporan apa pun terkait peristiwa itu.

”Kebetulan semua siswa kelas I libur satu minggu karena ruangan kelasnya digunakan untuk try out ujian nasional siswa kelas III,” kata Dian, staf tata usaha SMK itu. (RTS/MDN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau