Televisi negara itu merilis berita bahwa pasukan oposisi telah menembakkan roket mengandung bahan kimia beracun di Khan al-Assal. Sekitar 25 orang tewas dan puluhan orang terluka. Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) menyebutkan, sedikitnya 16 tentara terbilang di antara korban tewas.
Kantor berita SANA melaporkan, roket ”berisi bahan kimia” itu telah ditembakkan kelompok ”teroris”. Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Faysal Mekdad menyebutkan, 31 orang tewas dalam serangan di Khan al-Assal. Kantor berita ini juga menambahkan, lebih dari 100 orang terluka akibat serangan roket itu.
SANA juga merilis gambar tentang beberapa korban kritis, termasuk anak-anak. ”Ini adalah kejahatan lain yang dilakukan kelompok teroris bersenjata yang didukung beberapa negara Arab dan Barat,” kata Mekdad kepada wartawan di Damaskus.
Untuk mendukung klaimnya bahwa oposisi telah menggunakan senjata kimia mematikan, SANA menunjuk pada video yang dirilis YouTube beberapa bulan lalu. Oposisi sedang melakukan uji coba dengan racun pada tikus dan kelinci. Asal-usul video tersebut tak diketahui secara pasti.
Isu bahwa senjata kimia mulai digunakan di medan perang di Aleppo merupakan yang pertama selama konflik Suriah yang telah memasuki tahun ketiga ini. Tuduhan penggunaan senjata kimia oleh oposisi disampaikan Rusia, sekutu utama Suriah.
”Informasi dari Damaskus menyebutkan, penggunaan senjata kimia oleh kubu oposisi bersenjata telah dilakukan di Provinsi Aleppo pada 19 Maret pagi,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam satu pernyataan.
Kubu oposisi dengan segera membantah telah menggunakan senjata kimia sebagaimana dituding pihak rezim. Mereka balik menuding pasukan pemerintah Assad telah menggunakan senjata kimia untuk membunuh rakyat Suriah dan pasukan oposisi.
Mayor Jenderal Adnan Sillu, bekas petinggi militer yang telah membelot ke Tentara Pembebasan Suriah (FSA) tahun lalu, menuduh militer Assad telah menembakkan senjata kimia. Sebelum membelot, Sillu termasuk petinggi militer yang terlibat dalam program pelatihan penggunaan senjata kimia rezim Assad.
”Hanya rezim memiliki rudal jarak jauh yang mampu memuat bahan kimia,” kata Sillu dalam komentarnya kepada Al Arabiya. Menurut pemimpin kelompok payung oposisi Suriah, Dewan Nasional Suriah, pihaknya kini tengah menyelidiki serangan roket ke Khan al-Assal itu.
Selain dibantah keras oposisi, Amerika Serikat menegaskan, tidak ada bukti kuat bahwa oposisi menggunakan senjata kimia.
Pernyataan Gedung Putih disampaikan oleh juru bicaranya, Jay Carney, untuk menanggapi laporan media resmi Suriah, yang menuduh oposisi bersenjata telah menembakkan roket berisi bahan kimia. AS bersikap hati-hati terkait adanya isu penggunaan senjata kimia itu dan menyatakan prihatin jika itu benar-benar telah digunakan.
Jika benar sudah ada penggunaan senjata kimia dalam perang saudara di Suriah, itu merupakan ”skenario mimpi buruk” bagi konflik yang dalam dua tahun telah menewaskan lebih dari 70.000 orang. Saling tuding dari kedua pihak yang bertikai jelas untuk saling menarik dukungan internasional.
Salah satu keprihatinan mendalam komunitas internasional atas konflik Suriah selama ini adalah kemungkinan penggunaan senjata kimia pemusnah massal oleh rezim melawan pihak oposisi. Senjata jenis itu akan semakin berbahaya jika jatuh ke pihak oposisi dan pejuang Hezbollah Lebanon yang bersekutu dengan Assad.
Penggunaan senjata kimia paling mematikan dalam sejarah di Timur Tengah adalah di Halabja, Irak. Sebanyak 5.000 orang tewas dalam serangan gas beracun yang dilancarkan rezim Presiden Saddam Hussein, 25 tahun lalu. Serangan mematikan tersebut dikutuk oleh dunia internasional.(REUTERS/AP/AFP/CAL)