Inilah Pemenang "Seni Jalanan" Google

Kompas.com - 21/03/2013, 07:51 WIB

Google Chrome



JAKARTA, KOMPAS.com — Gerakan seni jalanan (street art) digital pertama di Indonesia yang diselenggarakan Google, Chrome Open Spaces, telah berakhir. Sembilan karya seni jalanan digital terbaik keluar sebagai juara dan dilukis secara nyata di 9 dinding sekitar Jakarta dan Bandung.

Country Marketing Manager Google Indonesia Krishna Zulkarnain mengatakan, Chrome Open Spaces telah menarik perhatian pencinta seni Indonesia. "Hampir 13.000 peserta serta 12.000 karya yang telah dihasilkan dan terkumpul lebih dari 11.000 dukungan," kata Krishna dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (20/3/2013).

Dari ribuan perserta, ada sembilan karya seni jalanan digital terbaik yang mendapat dukungan paling banyak dari pengunjung situs openspaces.co.id, dan memikat perhatian juri. Ketiga juri itu adalah pekerja seni Darbotz, kurator Farah Wardhani, dan musisi David Bayu dari grup musik Naif.

Berikut adalah 9 karya dari 9 seniman yang menjuarai Chrome Open Spaces. Karya yang berasal dari gambar digital kemudian digambar secara nyata di dinding sekitar Jakarta dan Bandung.

1. "Buanglah Koruptor ke Tempat Sampah" karya Adi Setiawan

1. Buanglah Koruptor ke Tempat Sampah karya Adi Setiawan
Berawal dari keprihatinan melihat tindak pidana korupsi di Indonesia. Adi memvisualkan keresahannya dengan sosok anak kecil sebagai generasi penerus bangsa untuk melawan korupsi. Desain ini dilukis di tembok Metro Futsal Pondok Indah, Jakarta.

2. "Sing in Open Sky" karya Kristoforus Marvino

2. Sing in Open Sky karya Kristoforus Marvino
Desain yang menampilkan tiga anak kecil sedang bernyanyi di atap. Divisualkan dengan warna-warna cerah. "Sing Open Sky" dilukis di Kiara Condong, Bandung.

3. "Go Outside & Play!" karya Woof Jakarta atau Gibran

3. Go Outside & Play! karya Woof Jakarta atau Gibran
Karya ini dilukis di tembok Flyover Roxy, Jakarta, menampilkan dua anak kecil sedang bersepeda dengan mayoritas warna merah jambu yang menggambarkan kesenangan. Insipirasi karya ini berawal dari keprihatinan Gibran melihat terbatasnya ruang terbuka bagi anak-anak untuk bermain, khususnya di ibu kota Jakarta.

4. "Colours" karya Ricky Janitras

4. Colours karya Ricky Janitras
Seorang mahasiswa di Institut Kesenian Jakarta datang dengan keprihatinan melihat tingkat polusi yang sangat tinggi di Jakarta, yang membuat masyarakat sulit untuk memandang langit biru. Karya Ricky akan dilukis di Kemang, Jakarta.

5. "Sleep" karya Omen Jangkung atau Yatiman

5. Sleep karma Omen Jangkung atau Yatiman
Yatiman menggambarkan kehidupan pelukis otodidak, yang dalam prosesnya berkreasi berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan segala ide di dalam kepala. "Sleep" dilukis di sekitar Dago, Bandung.

6. "Berjuang, Anak Bangsa!" karya Rachel Dewi

6. Berjuang, Anak Bangsa! karya Rachel Dewi
Rachel percaya akan pentingnya pendidikan dan penanaman cinta tanah air bagi anak Indonesia sebagai senjata perjuangan untuk terus memajukan bangsa di masa depan. Karya ini dilukis di dinding daerah Salemba, Jakarta.

7. "Synthetic Polymer Paint Rules O.K" karya Henry Irawan

7. Synthetic Polymer Paint Rules O.K karya Henry Irawan
Jalan Panglima Polim, Jakarta, kembali mendapatkan kreasi unik setelah Henry Foundation, vokalis dari grup musik Goodnight Electric, menjadi pemenang dengan karyanya "Synthetic Polymer Paint Rules O.K". Henry Irawan, atau juga dikenal Henry Foundation, mendapatkan ide dari ketertarikannya akan kontes Chrome Open Spaces itu sendiri. Synthetic Polymer adalah salah satu bahan yang digunakan dalam pembuatan cat akrilik, di mana keseluruhan karya mural yang beraneka tidak lepas dari peran cat akrilik.

8. "What’s Next Indonesia Batik" karya Heri Puruhito

8. What’s Next Indonesia Batik karya Heri Puruhito
Mengangkat tema batik, Heri bertujuan mengajak para anak muda di Indonesia untuk lebih mengeksplorasi batik sebagai warisan budaya negeri ini. Ini merupakan bagian dari kampanye "Neobatik" sebagai wadah dan gerakan independen untuk mengeksplorasi motif dan visual batik. Karya ini berhasil dilukis di Jalan Ibrahim Adjie, Bandung.

9. "Out of The Limit, to a Better Place" karya Reinhard Aris

9. Out of The Limit, to a Better Place karya Reinhard Aris
Karya ini telah dilukis di salah satu dinding di sekitar Fatmawati, Jakarta. Melihat semangat anak muda zaman sekarang yang berani bertindak dan melakukan hal-hal baru, Reinhard terinspirasi untuk mengikuti Chrome Open Spaces.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau