Aksi korporasi

Saham Dyandra Resmi di Bursa Efek Indonesia

Kompas.com - 26/03/2013, 03:35 WIB

Jakarta, Kompas - Perusahaan yang bergerak di bidang pertemuan, insentif, konvensi, dan ekshibisi (MICE), PT Dyandra Media International Tbk, resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten DYAN. Dalam pencatatan pertamanya, Senin (25/3), saham anak usaha Kompas Gramedia itu pada awal perdagangan tercatat Rp 420 per lembar saham, dengan harga tertinggi mencapai Rp 500 dan ditutup pada Rp 385. Pada penawaran awal, saham DYAN Rp 350 per saham.

Tingginya kenaikan saham hingga 100 poin, menunjukkan saham DYAN direspons positif oleh pasar. Menurut Danny Budiharto, Chief Operating Officer Dyandra Media, saham DYAN sudah diminati sejak penawaran pertama. ”DYAN oversubscribed (kelebihan permintaan) hingga 40,6 kali. Ini rekor,” kata Danny.

Direktur Pengawasan dan Transaksi Kepatuhan Bursa Efek Indonesia (BEI) Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, DYAN merupakan emiten yang ke tujuh di tahun 2013, dan menjadi emiten ke 467 di BEI.

Tahun ini diharapkan kian banyak perusahaan yang mencatatkan di lantai bursa. ”Saat ini ada belasan perusahaan yang mendaftarkan ke BEI, tetapi masih dalam persiapan. Yang hampir siap di atas 10,” kata Uriep.

Mengenai naiknya saham DYAN saat pencatatan pertama, Uriep mengatakan merupakan kewajaran. ”Permintaan lebih banyak dibandingkan ketersediaan, maka harga akan naik. Ini hukum ekonomi,” ujar dia.

Sementara, Komisaris Utama DYAN Agung Adiprasetyo mengatakan, pencatatan DYAN merupakan yang pertama bagi anak usaha di Kompas Gramedia. ”Pencatatan ini menuntut tanggung jawab besar bagi perusahaan untuk terus menjaga kinerja yang baik,” kata Agung.

Menurut Danny, modal dari penjualan saham ini akan dipakai untuk membangun hotel dan pusat konvensi (convention center) yang telah direncanakan. ”Kami ingin memiliki 21 hotel dan lima convention center. Saat ini baru tujuh hotel. ”Kami juga sedang membangun tiga convention center di Serpong (Tangerang, Banten), Bali, dan Makassar (Sulawesi Selatan),” kata Danny.

Pusat konvensi di Bali dan Serpong sudah hampir selesai. Bahkan untuk yang di Bali, tahun ini akan dipakai untuk pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Dua pusat konvensi yang lain akan dibangun di Surabaya, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Tahun 2015, kelima pusat konvensi ini diharapkan siap dimanfaatkan.

Danny juga menjelaskan, pendapatan DYAN saat ini sebagian besar dihasilkan dari penyelenggara acara (event organizer/EO). ”Ada 700 acara yang dilaksanakan tahun lalu. Tahun ini ada 800 acara digelar,” kata Danny.

Apabila seluruh hotel dan pusat konvensi selesai dibangun dan bisa digunakan, diperkirakan pendapatan akan seimbang. ”Porsinya 55 persen untuk EO (event organizer/pengelola acara) dan 45 persen untuk properti,” ujar Danny.

Danny optimistis pendapatan di sektor properti akan meningkat, mengingat jumlah turis asing yang datang ke Indonesia juga terus meningkat.

”Tahun lalu turis asing yang datang sekitar 7 juta orang. Tahun ini diperkirakan 8 juta orang. Di Malaysia dan Thailand, turis asing mencapai 20 juta orang,” ujar dia.

Kunjungan turis asing akan meningkat apabila infrastruktur di Indonesia juga semakin baik dan lengkap. Salah satu yang dibutuhkan turis adalah hotel dan pusat konvensi. (ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau