Gunung api dieng

Bau Belerang Kian Meluas

Kompas.com - 27/03/2013, 03:15 WIB

Banjarnegara, Kompas - Bau belerang akibat peningkatan aktivitas vulkanik Kawah Timbang di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang sebelumnya tercium pada jarak 2 kilometer, meluas hingga 4 kilometer. Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat membagikan sekitar 2.000 masker kepada warga untuk mencegah potensi gangguan pernapasan.

Petugas Posko Pemantau Kawah Timbang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Andri Sulistyo, Selasa (26/3), mengatakan, masker dibagikan kepada warga Dusun Simbar dan Kaliputih, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur.

”Pembagian masker atas permintaan warga untuk mengantisipasi sakit pernapasan atau mual-mual, terutama bagi warga lanjut usia dan anak-anak,” ujarnya.

Bau belerang pekat hanya tercium pada malam hari dengan waktu tak lama. Sementara pada siang hari bau belerang tak terlalu pekat.

Dari hasil pemantauan petugas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada Selasa kemarin, konsentrasi gas Kawah Timbang masih tinggi. Dari pengukuran konsentrasi gas di Jalan Kepucukan ke arah selatan, konsentrasi gas CO2 tertinggi mencapai 1,3 persen volume dan H2S lebih dari 100 ppm. Berdasarkan pengamatan, uap air putih tebal yang disertai gas beracun terlihat meluncur 300-500 meter dari Kawah Timbang ke selatan atau Kali Sat.

Adapun pada jarak 700 meter ke arah Dusun Simbar dan Dusun Serang—yang paling berdekatan dengan Kawah Timbang— gas beracun tidak terdeteksi. Sebagai catatan, batas ambang normal yang bisa dihirup manusia untuk gas CO2 sebesar 0,5 persen volume, sedangkan H2S sebesar 10 persen volume. Petugas PVMBG di Pos Pengamatan Gunung Api Dieng pada Senin lalu pukul 18.00 hingga Selasa pukul 06.00 merekam adanya lima kali gempa vulkanik dalam.

Jalan setapak

Kepala Desa Sumberejo Ibrahim mengatakan, ruas jalan penghubung Desa Pekasiran dengan Dusun Serang di Desa Sumberejo yang ditutup PVMBG bukan jalan utama yang dilalui motor atau mobil. ”Itu hanya jalan setapak yang dilintasi petani dari Desa Pekasiran yang akan ke Pasar Batur,” ujarnya.

Jalan itu ditutup sejak tragedi Kawah Sinila yang menelan 149 korban jiwa pada 20 Februari 1979.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng Tunut Pujiharjo mengatakan, pada waktu-waktu tertentu, kadang gas beracun melintasi jalan Pekasiran-Serang sejauh 500 meter dari titik semburan di Kawah Timbang. ”Gas beracun ini mengalir lewat lembah-lembah di sekitar Kawah Timbang, termasuk ruas jalan itu,” kata Tunut.

Sementara itu, dari pantauan PVMBG hingga Selasa siang, aktivitas Gunung Dieng mulai turun meskipun statusnya masih Waspada dan masih menyemburkan gas berbahaya. Hasil pemantauan PVMBG, Selasa pukul 06.00-12.00, terekam 5 kali gempa vulkanik dangkal, 3 kali gempa vulkanik dalam, dan 2 kali gempa embusan. (GRE/AIK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau