Kompolnas Sarankan Bentuk Tim Independen

Kompas.com - 28/03/2013, 18:42 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) meyakini polisi tidak akan mungkin sendirian menyelesaikan kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cebongan, Sleman, Yogyakarta, yang terjadi pada Sabtu (28/3/2013) dini hari beberapa hari lalu.

Untuk mengungkap kasus seperti ini, satu-satunya cara adalah dengan pembentukan tim independen yang tentunya bersikap netral. Pasalnya kasus ini bukan masalah pembuktian oleh polisi, tetapi yang dibutuhkan saat ini adalah koordinasi dan kerja sama dengan tim independen. Kompolnas juga menganggap bahwa kasus seperti ini adalah kasus yang sangat besar yang sudah dilirik tingkat internasional.

"Jelas ini adalah kasus besar, sudah mencuat ke dunia internasional. Jika diurus sama polisi saja, saya yakin kasus ini tidak akan pernah selesai karena ini kasus yang sangat besar. Jadi, perlu pembentukan tim independen untuk segera menguak kasus ini," tegas anggota Kompolnas, Edi Saputra Hasibuan, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (28/3/2013).

Menurut Edi, tim independen itu adalah melibatkan semua pihak, tidak hanya polisi, tetapi juga TNI, Kompolnas, Komnas HAM dan juga masyarakat umum harus turut dilibatkan. "Kasus ini menjadi perhatian yang sangat serius bagi kita, perlu perhatian dari kita. Kalau oleh tim independen, kenapa tidak kasus ini bisa secepatnya terungkap," tambah Edi.

Edi menambahkan, sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyarankan kepada Panglima TNI dan Kapolri agar kasus ini diselesaikan secara bersama-sama. Namun, menurut dia, Polri dan TNI saja tidak cukup untuk menguak penguakan kasus ini, tidak hanya cukup dilakukan oleh polisi dan TNI, tetapi harus dibentuk tim independen yang melibatkan semua elemen, seperti Komnas HAM, Kompolnas, termasuk masyarakat.

"Kami sarankan begitu, artinya Polri, TNI, Komnas HAM, Kompolnas, juga masyarakat harus dilibatkan dalam mengungkap kasus ini. Jadi, bukan hanya TNI ataupun polisi," kata Edi.

Selain itu, pihaknya juga mengaku sudah melakukan koordinasi dengan Polda DI Yogyakarta setempat dan juga Mabes Polri, kemudian pihaknya lainnya akan segera dikonfirmasi untuk pembentukan tim independen ini. "Kemudian langkah selanjutnya, kita akan ajukan ke Presiden," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, gerombolan bersenjata menyerang Lapas Cebongan, Sleman, dan menembak mati empat tersangka kasus penganiayaan yang menewaskan anggota Kopassus, Sertu Santosa, Sabtu (23/3/2013) dini hari. Keempatnya adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait.

Serangan pelaku dinilai sangat terencana. Mereka melakukan aksinya dalam waktu 15 menit dan membawa CCTV lapas. Pelaku diduga berasal dari kelompok bersenjata yang terlatih.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau