Nasib Monorel Adhi Karya Wewenang Kemenhub

Kompas.com - 29/03/2013, 22:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengakui kalau ia baru saja bertemu dengan Direktur Utama (Dirut) PT Adhi Karya Kiswo Dharmawan untuk membahas pembangunan proyek transportasi massal berbasis rel, monorel.

Rencananya, PT Adhi Karya yang merupakan konsorsium BUMN itu akan mengerjakan jalur di luar green line dan blue line yang akan digarap konsorsium lama PT Jakarta Monorail.

Menurut dia, monorel yang akan dibangun oleh PT Adhi Karya itu adalah wewenang Kementerian Perhubungan, karena jalurnya berada dari luar Jakarta, yaitu Bekasi.

"Ya membicarakan jalur timur ke barat, tapi ya belum diputuskan karena itu kewenangan Kementerian Perhubungan karena menyangkut Bekasi, Jakarta, dan Tangerang," kata Jokowi, di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/3/2013).

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan untuk keberlanjutan proyek monorel di Jakarta saja, kata dia, masih berjalan di tempat. Karena PT Jakarta Monorail belum lagi memberikan laporan terbaru terkait progress persyaratan yang diberikan Jokowi.

Sementara itu, untuk pembangunan tiang-tiang pancang atau trase-nya, kata dia, juga masih belum ditentukan akan dibangun di mana.

"PT JM saja belum beri laporan lagi ke saya. Trase-trasenya juga belum ditentukan oleh Kementerian Perhubungan, kok malah bicara yang belum dibicarakan," kata mantan Wali Kota Surakarta itu.

Untuk diketahui, selain PT Adhi Karya, Ortus Holdings Ltd juga bersepakat akan bekerja sama membangun Monorel di luar jalur yang ditentukan PT Jakarta Monorail.

Kesepakatan awal ini tercapai setelah kedua pemilik perusahaan itu bertemu, dan pada Kamis (28/3/2013) kemarin, menghadap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Dirut PT Adhi Karya Kiswo Dharmawan mengatakan, pihaknya akan segera melaporkan kesepakatan dan hasil pertemuan dengan Joko Widodo kepada Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Namun begitu saat ini pemberian informasi baru dilakukan melalui telepon karena Dahlan Iskan tengah bertugas di luar negeri.

Menurut Kiswo, kerja sama itu akan mempercepat impian Jakarta memiliki transportasi modern dan bebas kemacetan. Karena nantinya ada perusahaan baru turunan dari Adhi Karya dan Ortus yang menggarap jalur-jalur monorel di Jakarta dan luar Jakarta, di luar jalur blue line dan green line.

Sekedar informasi, pembangunan monorel di jalur blue line dan green line saat ini telah dipercayakan pada PT Jakarta Monorel, di mana Ortus Holdings memiliki 90 persen saham.

Jalur blue line dan membentang sepanjang 30 kilometer, sedangkan jalur green line sepanjang 14,5 kilometer. Jalur blue line, dari Kampung Melayu - Kuningan - Casablanca - Tanah Abang - Roxy - Taman Anggrek dengan extention ke timur dari Pondok Kelapa - Sentral Timur Jakarta dan ke Barat dari Puri Indah. Sedangkan jalur green line, mulai Kuningan - Kuningan Sentral - Gatot Subroto - Asia Afrika - Pejompongan - Karet - Dukuh Atas - kembali ke Kuningan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau