JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait mengatakan, kepala sekolah yang mengeluarkan sekaligus melarang peserta didiknya mengikuti Ujian Nasional (UN) karena ketahuan menikah, layak mendapatkan sanksi. Bahkan, layak dicopot dari jabatannya.
"Ini harus jadi perhatian pemerintah, kepala sekolah harus dicopot karena telah melanggar konstitusi." ujar Arist kepada wartawan di kantor Komnas PA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (2/4/2013).
Seorang siswa kelas XII SMA 7 Tangerang, Muhammad Sudirman (17), dikeluarkan sekaligus dilarang ikut UN oleh sekolahnya. Putra bungsu pasangan suami istri Suwandi dan Ilah itu dikeluarkan lantaran dianggap melanggar aturan sekolah dengan menikahi seorang perempuan.
Arist mengatakan, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional telah tegas menyebutkan bahwa Ujian Nasional adalah hak peserta didik yang diberikan oleh negara melalui institusi pendidikan. Oleh sebab itu, institusi pendidikan tak berhak melarang peserta didik mengikuti UN. Terlebih, itu terjadi lantaran peserta didik dianggap telah melanggar peraturan sekolah.
Arist mengatakan, setelah pihaknya melakukan komunikasi dengan sekolah, dia mendapati fakta bahwa tidak ada satu pun peraturan atau pasal di peraturan sekolah yang menyatakan wajib mengeluarkan atau melarang peserta didik yang menikah untuk mengikuti Ujian Nasional.
"Soal kesalahan perilaku anak, kami juga tidak setuju itu terjadi. Tapi itu tidak ada kaitannya dengan pemberian hak pendidikan yang layak bagi anak-anak. Harus dibedakan," kata Arist.
Dalam waktu dekat, kata Arist, Komnas PA pun akan menyurati Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melaporkan kasus tersebut. Ia berharap, pemerintah dapat menyelesaikan kasus itu dengan memperbolehkan Sudirman mengikuti Ujian Nasional, seperti semestinya.
Sudirman mengaku kecewa dengan perlakuan yang diterima dari sekolahnya. Di sisi lain, ia mengakui kesalahan telah menikah meski masih berstatus sebagai pelajar. Namun, Sudirman mengaku pernikahan tersebut adalah sebuah pelajaran berharga dalam hidupnya dan Sudirman tak ingin mengabaikan pendidikannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang