Jokowi Tak Ingin "Kecolongan" dalam MRT

Kompas.com - 03/04/2013, 08:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Rencana pembangunan mass rapid transit (MRT) terus bergulir. Gubernur DKI Jakarta bergerak dinamis untuk memantapkan rencana tersebut. Seakan tak ingin "kecolongan", dia berinisiatif menggojlok semua sisi, termasuk menggaet advisor dari pihak yang netral.

Di 2013, Jokowi menggelar dua kali public hearing terkait moda transportasi massal berbasis rel ini meski dampak dari acara yang melibatkan semua pihak terkait ini belum menunjukkan dampak signifikan. Pada pertengahan Februari, mantan Wali Kota Surakarta ini mendesak PT MRT Jakarta untuk menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) guna menentukan direksi yang baru. Sekitar sepekan setelahnya, kekosongan direksi langsung terisi.

Terakhir, pada akhir pekan lalu (30-31 Maret 2013), Jokowi terbang ke Singapura untuk meminta nasihat dari pihak yang berpengalaman pada pembangunan dan pengoperasian MRT. Bersama Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pembangunan Wiryatmoko serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sarwo Handayani, Jokowi menemui konsultan MRT dari Singapura dan Shanghai (China).

Awalnya, Jokowi mengaku hanya meminta nasihat terkait MRT. Namun, belakangan, dia menyampaikan keinginannya melibatkan penasihat netral untuk terlibat lebih dalam di megaproyek ini. Ia menyatakan enggan bila semua digarap oleh pihak Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

Jokowi mengatakan, keinginannya menggaet penasihat dari pihak netral adalah untuk membantu melakukan kontrol. Dia tetap membuka diri untuk konsultan dari dalam negeri meski di sisi lain menyadari belum adanya pengalaman MRT di Indonesia.

"Lah iya, tetap peluang itu (penasihat netral) harus diakomodasi. Kalau enggak, ya enggak usah saja, gampang itu," kata Jokowi, Selasa (2/4/2013).

Sejauh ini, JICA menyetujui peminjaman dana sebesar Rp 15 triliun untuk proyek MRT di ruas Depok-Lebak Bulus sampai Sisingamangaraja dengan konsep jalan layang (luas 9,8 kilometer persegi) dan ruas Senayan sampai Bundaran Hotel Indonesia (HI) dibangun di bawah tanah dengan luas 5,9 kilometer persegi.

Namun, belum ada persetujuan pinjaman untuk ruas berikutnya dari Bundaran HI ke Kampung Bandan (8,1 kilometer). Terakhir, Jokowi berencana mengajukan penambahan pinjaman pada JICA.

Berita terkait, baca :

MRT Jakarta

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau