Penyerangan lp cebongan

Ciutkan Nyali Bangsa, Bangun Kartel Bersenjata

Kompas.com - 05/04/2013, 09:37 WIB

KOMPAS.com - "Misi Anda, kalau Anda bersedia melaksanakannya, melakukan penetrasi ke sel tahanan menembus Lembaga Pemasyarakatan Cebongan yang dijaga minimum dan habiskan empat orang di dalamnya yang dipindahkan hari ini. Laporan intelijen, tidak ada hambatan apa pun di LP. Misi harus dilakukan maksimum 15 menit. Untuk menghemat waktu, kami telah memilih tim bersenjata lengkap. Seperti biasa, jika Anda atau anggota tim tertangkap atau terbunuh, komandan akan mengingkari berbagai informasi dan pengetahuannya tentang aksi Anda….”

Ini mungkin skenario baru bagi film layar lebar Mission Impossible bagi operator agen rahasia Ethan Hunt yang diperankan Tom Cruise. Bedanya, kalau skenario LP Cebongan ditayangkan dalam layar lebar, penonton akan bingung karena terlalu banyak komentar, bantahan, skenario, aktor, surat kabar dan majalah, sutradara, dan sebagainya.

Dalam skenario LP Cebongan, misinya satu: membantai 4 tahanan untuk eksekusi tembak jarak dekat menggunakan peluru kaliber 7,62 mm. Anehnya, dari berbagai kebingungan atas serangan maut berdarah ke ranah hukum negara, tidak ada komentar yang menyebutkan adanya perang antarcenteng berebut lahan narkoba atau aktivitas kriminal haram lain.

Kita ingin mengingatkan, ketika kita menjadi bingung karena banyak komentar dan bantahan, tidak ada arahan jelas tentang upaya bersama menegakkan hukum di Indonesia. Upaya hukum kepolisian melalui penyidikan, rekonstruksi kejadian, uji coba balistik, visum, dan sebagainya ternyata tidak didukung penuh. Ada kecenderungan, mulai dari anggota Parlemen sampai aktivis kemanusiaan, melebarkan persoalan dan melecehkan upaya yang sedang dilakukan kepolisian mengusut pembantaian LP Cebongan.

Komandan tahu

Anehnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah memberikan dukungan atas dua tim investigasi Polri dan TNI AD untuk mengurai pembantaian LP Cebongan dan dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Kita harus sekali lagi menekankan, yang kita perlukan di alam demokrasi ini adalah penegakan hukum, bukan dukung sana dukung sini.

Bagi rakyat, yang diperlukan adalah bukti hukum ditegakkan, bukan restu atas berbagai tim investigasi dan mempertanggungjawabkan kepada rakyat.  Pertanggungjawaban dilakukan pemerintah di Parlemen atau pada pemilu nanti. Itu adalah esensi penting demokrasi.

Kita mengerti pernyataan KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo tentang penegakan hukum. Namun, kita tidak mengerti tentang tim investigasi internal yang dibentuk ketika Polri belum selesai melakukan tugasnya menegakkan hukum. Ketidakmengertian kita sama dengan pernyataan ”adanya indikasi keterlibatan oknum TNI AD”. Kenapa tidak langsung mengatakan ”adanya indikasi keterlibatan anggota TNI AD”? Di mana bedanya? Mereka yang berjuang menegakkan hukum pasti bisa membedakan mana ”oknum” dan mana ”anggota.”

Kita khawatir, ini akan menjadi tanda kebangkitan oligarki militer, seolah-olah keterlibatan anggota militer dalam pembunuhan di LP Cebongan harus diinvestigasi pihak militer juga. Bukannya militer memiliki perangkat intelijen yang jeli dan bisa diandalkan untuk mengetahui seluk-beluk kawan dan lawan? Atau memang aparat intelijen militer sudah tidak berfungsi sampai mata rantai komando paling bawah?

Semua matra TNI menjelang dan sesudah pembantaian LP Cebongan dalam posisi siaga 1 karena ada ancaman menurunkan Presiden Yudhoyono dari posisinya. Situasi siaga mengharuskan semua komandan di mana pun, melakukan apel berkala menjaga kesiapan personel, menghitung persenjataan, dan berbagai prosedur tetap militer. Tak ada aktivitas di markas yang tidak diketahui komandan.

Oligarki bersenjata

Pembantaian jadi bagian dari strategi budaya Indonesia sejak merdeka sampai Reformasi. Terlalu banyak darah mengalir yang menghina hak asasi manusia. Lihat saja Gerakan 30 September atau ”petrus” (penembakan misterius), yang sampai sekarang gelap gulita jumlahnya, orangnya, dan pelakunya.

Tidak ada satu pun jenderal yang menulis buku biografi membahas soal petrus. Sebuah kejahatan negara atas bangsanya bisa lenyap dan tidak berbekas karena tidak ada yang mencoba menjelaskan apa yang terjadi, apalagi berani mempertanggungjawabkannya.

Preferensi kita sebagai rakyat dan bangsa demokratis menjadi luntur dalam oligarki militer yang menganggap negara bisa dikangkangi. Menjelang Pemilu 2009, kita menulis soal politik kartel militer yang terbukti kalau para jenderal sebagai ”manajer baru” tidak bisa memperbaiki Indonesia.

Berbagai peristiwa kriminal, dari perampokan hingga pencurian, mulai menggunakan senjata dan setiap saat menghabisi nyawa rakyat. Kalau dulu kita mempertanyakan posisi para jenderal sebagai manajer baru, sekarang para prajurit mencontoh para jenderal dengan cara mereka sendiri, pakai senjata.

Pembantaian di LP Cebongan adalah Petrus 2.0 yang berbeda motivasi. Tujuannya mengukuhkan kekejaman dan membuat takut rakyat sekaligus pelan-pelan menghancurkan bangsa ini dalam rangka membangun oligarki bersenjata menguatkan kartel militer. (René L Pattiradjawane)

Baca juga:
Indonesia dalam Keadaan Bahaya
Kata Presiden, Negara Tidak Boleh Kalah

Rumah Pertobatan Dinodai Lumuran Darah ...

Jiwa Korsa Lahirkan Dendam Gerombolan

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau