Diubah Lagi, Penerapan Kurikulum 2013

Kompas.com - 08/04/2013, 02:58 WIB

Jakarta, Kompas - Jumlah sekolah yang akan menerapkan Kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru nanti berkurang dari rencana semula. Pengurangan ini disesuaikan dengan kesiapan sekolah dalam melaksanakan kurikulum baru itu.

Perubahan terbaru yang dimatangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, implementasi kurikulum baru hanya akan diterapkan di 10 persen SD untuk kelas I dan IV, 20 persen jenjang SMP di kelas VII, dan 100 persen di jenjang SMA/SMK di kelas IX.

”Yang di jenjang SMP juga masih dikaji lagi. Sebab, ada masukan untuk dikurangi lagi jumlahnya,” kata Dian Wachyuni dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam Seminar Nasional Kesiapan Guru dalam Menghadapi Kurikulum Baru dan Problematikanya, di Jakarta, Minggu (7/4).

Seminar yang dihadiri guru dan mahasiswa kependidikan ini diselenggarakan Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Di kalangan guru berkembang gerakan penolakan Kurikulum 2013.

Sebelumnya, penerapan Kurikulum 2013 akan dilaksanakan di 30 persen kelas I dan IV SD, 100 persen kelas VII SMP, dan 100 persen kelas IX SMA/SMK. Di jenjang SD dipilih sekolah yang berakreditasi A dan B.

Menurut Dian, di jenjang SMA/SMK penerapan bisa 100 persen di kelas IX karena belum semua mata pelajaran. Di jenjang ini, penerapan Kurikulum 2013 baru untuk tiga mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Sejarah Indonesia, dan Matematika.

Terkait pelatihan guru kelas ataupun guru mata pelajaran, menurut Dian, mulai dilaksanakan Mei dan Juni nanti. Guru yang ditetapkan mendapatkan pelatihan dua tahap di semester I dan II. Para guru ini akan didampingi guru inti.

Banyak persoalan

Hartini Nara, dosen Universitas Negeri Jakarta, mengatakan, pemerintah terlalu memaksakan Kurikulum 2013 diterapkan secara tergesa-gesa pada Juli nanti. Padahal, masih banyak persoalan mendasar yang perlu diperbaiki dan disempurnakan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013.

”Tidak mudah mengubah cara berpikir guru. Jadi, tidak bisa dengan pelatihan asal-asalan. Kesiapan kurikulum ini harus dilihat dari guru yang berada di lapangan,” kata Hartini.

Jimmy Paat, pengajar UNJ dan aktivis Sekolah Tanpa Batas, mengatakan, para guru bingung untuk memahami dan mengimplementasikan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang dibuat pemerintah. ”Terlalu berlebihan kalau pemerintah memaksakan implementasi Kurikulum 2013 Juli nanti, sedangkan dokumen kurikulum saja belum ada,” kata Jimmy.

Itje Chodidjah, praktisi pendidikan, mengatakan, sungguh miris Kurikulum 2013 yang dokumennya tidak bisa diakses publik, tetapi sudah harus dilaksanakan. Di Inggris, yang akan mengubah Kurikulum pada 2014, kajiannya saat ini sudah dapat diakses publik lewat internet.

Secara terpisah, penolakan Kurikulum 2013 pada Minggu kemarin juga disampaikan Aliansi Revolusi Pendidikan dan organisasi guru. ”Pelaksanaan kurikulum baru terlalu terburu-buru,” kata Ide Bagus Arief S dari Aliansi Revolusi Pendidikan. (ELN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau