Angkringan Mi Instan Persis Bungkusnya

Kompas.com - 08/04/2013, 15:18 WIB

KOMPAS.com Hampir semua orang menyukai mi berkuah yang disajikan panas-panas, apalagi jika disantap saat udara dingin. Tak hanya soal rasa, aromanya saja bisa menerbitkan air liur siapa pun yang ada di dekatnya.

Salah satu angkringan yang ada di Jalan Pandeyan, Yogyakarta, menjadikan mi instan sebagai satu-satunya menu yang dijual. Namun, mi instan yang mereka sajikan tak seperti mi instan yang disediakan di warung-warung mi pada umumnya.

Pernah melihat bungkus mi instan? Di sana tergambar mi yang telah matang dengan apiknya, ditambah dengan berbagai tambahan di atasnya yang terlihat nikmat. Ya, seperti itulah mi yang disajikan di angkringan yang bernama "Telap12" ini.

Tak heran, slogan angkringan ini pun berbunyi, "Disajikan persis bungkusnya". Hasilnya? Memang benar-benar mirip dengan mi yang terlihat pada gambar bungkus mi.

Rasanya tak usah ditanya. Aroma mi baru matang dengan uap yang masih mengepul serta paduan tambahan di atasnya saja sudah menerbitkan air liur. Namun, rasanya tak berbeda jika Anda memasak sendiri mi instan itu.

Meski demikian, Husni, pemilik angkringan, mengaku ada bumbu-bumbu yang ditambahkan, selain bumbu dari mi instan itu sendiri. Ada 8 rasa mi yang ditawarkan, mengikuti dari varian mi yang diproduksi oleh pabrikan.

Namun, menurut Husni, tak semua varian mi dari pabrikan disediakan di warungnya. Karena ada beberapa varian yang sulit untuk "dieksekusi" karena terbatasnya ketersediaan bahan pembuat tambahan di atas mi.

Rasa mi yang paling difavoritkan oleh pelanggan, ujar Husni, yaitu rasa kari ayam dan cakalang rebus. Sesuai dengan nama dan gambar yang terpampang di bungkus mi instan, Husni benar-benar menambahkan ikan cakalang suir di atas mi.

Kadang ada juga pelanggan yang meminta varian mi lainnya. Sebut saja seperti mi goreng cabe ijo. Ada juga yang meminta mi kocok bandung.

"Sekarang yang susah mi kocok bandung. Mi kocok bandung itu permintaan dari pelanggan, variannya yang susah, mi-nya juga beda, mi keritingnya beda," papar Husni.

Bermula dari kenangan masa kecil

Ide untuk menyajikan mi instan sesuai dengan gambar bungkusnya ini berawal dari kekecewaan Husni di masa kecil. Ia mengaku sewaktu kecil suka sekali makan mi, tetapi mi yang ia dapatkan saat disajikan tak sesuai dengan yang ia bayangkan.

Hanya mi biasa, berbeda jauh dari yang tergambar di bungkusnya. Saat dewasa, akhirnya ia teringat kembali dengan kenangan tersebut dan bertekad ingin menyajikan mi sesuai dengan yang tergambar pada bungkusnya.

Kenangan masa kecil pula yang membuat ia menamakan warungnya dengan nama Telap12. Jika  dibaca akan berbunyi "telap-telep" yang artinya makan sangat lahap.

"Dulu kan waktu belajar bahasa Inggris, eleven twelve diajarin begitu sama guru. Nah, twelve itu kan bacanya kalau kita makan telap (seperti) twelve. Kalau makannya telap-telep makannya lahap banget," tuturnya saat menceritakan kenangan masa kecilnya sambil tertawa.

Jika Anda penasaran dengan mi instan persis bungkusnya, warung Telap12 di Jalan Pandeyan Nomor 10B bisa jadi salah satu alternatif kuliner Anda saat berada di Yogyakarta. Warung ini buka mulai pukul 15.00 WIB.

Ingat saja untuk jangan datang terlalu malam. Bisa-bisa Anda kehabisan varian mi yang tersedia karena warung ini sangat laris dikunjungi pelanggan setiap harinya.

Ikuti Twitter Kompas Travel di @KompasTravel

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau