Premanisme

Pastikan Dulu Aparat Bekerja Baik

Kompas.com - 09/04/2013, 04:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Kriminolog Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar, di Jakarta, Senin (8/4), mengatakan, pemberantasan premanisme dapat berjalan dengan benar jika penegak hukumnya juga bersih. Oleh karena itu, langkah awal yang dilakukan adalah memastikan penegak hukum bekerja dengan benar.

Langkah konkretnya, Bambang meminta agar dilakukan pembersihan terhadap penegak hukum, baik polisi, hakim, maupun jaksa. ”Langkah lain adalah perlu memperluas lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menyetarakan hasil pembangunan,” ujar Bambang saat ditanya tentang pemberantasan premanisme di DKI Jakarta.

Bambang menambahkan, pemberantasan premanisme dengan pendekatan kekerasan tidak akan mengakhiri kejahatan. ”Justru menunjukkan negara tidak berpihak pada rasa kemanusiaan,” kata Bambang.

AS (34), seorang debt collector, mengatakan, bentrokan yang terjadi antara kelompok preman atau kelompok preman dengan aparat keamanan sebagian besar dipicu tuntutan ekonomi.

”Banyak pengusaha yang tidak mau membayar utangnya karena mereka di-back up aparat atau kelompok preman lain,” kata AS.

Sementara itu, Zakarias Sabon (68), tokoh masyarakat asal Nusa Tenggara Timur, mengakui, banyak kelompok pemuda saat ini tidak lagi menjaga hubungan harmonis dengan kelompok yang lain dan dengan masyarakat. Kelompok itu cenderung dimanfaatkan untuk kepentingan yang tidak baik. ”Mereka disuruh menjaga tanah kosong dan siap bertindak sesuai instruksi tanpa mengetahui apa yang sebenarnya,” kata Zakarias.

William Yani, anggota DPRD DKI, mengungkapkan, fenomena premanisme di Jakarta disebabkan tidak ada pemerataan pembangunan di Indonesia timur.

Sementara itu, Aloysius Hieng selaku Ketua Umum ormas Pemuda Teguh Indonesia Raya menegaskan, tidak semua kelompok pemuda asal Indonesia timur berlaku anarkisme. (K07/K06)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau