JAKARTA, KOMPAS.com -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pelemahan, Selasa (16/4/2013). Riset Trust Securities memperkirakan level dukungan IHSG di 4.865-4.899. Level resisten IHSG diperkirakan ada di level 4.937-4.956.
Berpola menyerupai spinning di atas middle bollinger bands (MBB), MACD masih mendatar dengan histogram negatif yang memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal melanjutkan upreversal.
Meski pencapaian level tertinggi IHSG di kisaran support (4.900-4.935) namun penutupan IHSG di bawah target support tersebut memberi kesan akan adanya potensi penurunan kembali. Akan tetapi, selama masih dapat bertahan di atas level 4.860 (batas middle bollinger band) maka diharapkan IHSG dapat bergerak rebound yang tentunya dengan asumsi didukung laju bursa saham global dan sentimen yang ada.
Awal pekan yang buruk menggelayuti IHSG -tidak jauh berbeda dengan pekan sebelumnya- dimana IHSG masuk ke teritori negatif setelah terimbas pelemahan bursa saham AS pasca rilis penurunan tidak terduga retail sales, harga komoditas, dan consumer sentiment. Begitu pun dengan bursa saham Asia yang juga tidak terlalu kondusif, kemarin.
Pergerakan nilai tukar rupiah cenderung stagnan terimbas dari data-data China yang mensinyalkan masih adanya perlambatan di negara tersebut. Juga masih adanya ganjalan masalah di Siprus terkait dengan perkiraan penambahan dana bailout di atas perkiraan dan Portugal yang mahkamah konstitusinya telah membatalkan sebagian kebijakan penghematan pemerintah.
Di sisi lain, secara internal sentimen pertemuan BI pekan lalu direspon tidak terlalu baik karena tidak memberi sinyal pengetatan moneter di tengah inflasi yang lebih tinggi dibandingkan tingkat suku bunga BI (BI rate). Inflasi 5,9 persen (YoY) sedangkan BI rate di level 5,75 persen.
Indeks saham Asia melanjutkan laju negatif setelah rilis pertumbuhan GDP tahunan dan kuartalan di bawah estimasi dan rilis sebelumnya. Begitu pun dengan dengan rilis industrial production tahunan China dan Jepang yang turun makin menambah sentimen negatif.
Di sisi lain, rilis naiknya home loans Australia dan retail sales tahunan China belum mampu mengimbangi sentimen negatif tersebut. Sentimen negatif lain juga datang dari langkah pemerintah AS yang memaksa Jepang untuk tidak menjalankan kebijakan mendevaluasi nilai tukar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang