Pahlawan Bom Boston Itu Aktivis Anti-perang

Kompas.com - 16/04/2013, 22:36 WIB

KOMPAS.com — Carlos Arredondo, seorang aktivis anti-perang yang anaknya seorang tentara yang tewas di Irak, dipuji sebagai pahlawan tanpa pamrih yang bergegas membantu korban bom saat lomba maraton di Boston, AS, Senin (15/4/2013).

Saat ledakan bom, imigran Kosta Rika itu melompati pagar menuju penonton maraton yang banyak di antaranya telah kehilangan anggota badan. Dia lalu menggunakan pakaian dan handuknya untuk menyumbat pendarahan korban ledakan.

"Saya melompat pagar setelah ledakan pertama dan semua melihat darah dan orang-orang dengan kaki yang hilang," katanya kepada ABC News. "Aku melihat orang dewasa, jauh lebih muda dari diriku sendiri—wanita, pria, cukup banyak orang berhamburan."

Dalam satu foto yang tersiar, Arrendono membantu seorang korban yang kakinya terluka dan bersimbah darah bersama petugas medis. Dia terus berbicara kepada korban agar tidak kehilangan kesadaran. Dalam foto terlihat dia menekan arteri kaki pria yang kakinya putus itu.

Bunuh diri

Tragedi itu bukan yang pertama kali bagi pria 52 tahun tersebut. Putra tertua Arredondo, 20 tahun, Kopral Alexander Arredondo, meninggal dalam perang sembilan tahun lalu.

Arredondo kembali didera pukulan ketika anak keduanya Brian, 24 tahun, bunuh diri sebelum Natal 2011, tepat saat Perang Irak dinyatakan berakhir dan pasukan AS menarik diri. Brian menderita depresi dan berjuang melawan kecanduan narkoba sejak kematian sang kakak.

Pada hari perayaan kematian putra tertuanya, yang juga menjadi hari ulang tahun ke-44 Arredondo, dia mengunci diri di sebuah van dengan lima galon bensin dan membakarnya.

Dia selamat lalu menjadi aktivis perdamaian dan secara hukum telah mengganti namanya menjadi Alexander Brian Arredondo sebagai bentuk penghormatan kepada anak-anaknya. Pada 2006, dia menjadi warga negara Amerika.

Ketika bom meledak, Arredondo dan istrinya Melida Arredondo berada di tribun VIP dekat Boylston Street garis finis maraton. Mereka sedang menunggu pelari terakhir dari Garda Nasional, mewakili pelari dari Fallen Maine, organisasi yang didirikan untuk menghormati marinir yang tewas sejak serangan teror 11 September 2001. Salah satu pelari didedikasikan dalam lomba maraton khusus untuk putra Arredondo.

"Ada darah di lantai, darah di mana-mana. Lalu apa yang Anda lihat adalah tulang di mana-mana, maksud saya di mana-mana..." katanya.

Arredondo segera berlari dan bertindak setelah bom meledak. Aksinya dapat dilihat dalam serangkaian foto dan video di lokasi ledakan. Dia membantu korban yang tergeletak dan membuka jalan bagi petugas medis untuk merawat luka korban.

Dia terguncang dan gemetar saat mencengkeram bendera Amerika Serikat yang ternoda oleh darah. Istrinya sangat emosional karena teringat akan kematian putranya.

Arredondo hanyalah satu dari jiwa-jiwa pemberani yang membantu korban bom Boston. Dalam siaran televisi hingga Twitter, telah tersebar bagaimana aksi kemanusiaan warga yang giat saling membantu sesama tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau