Tragedi

Dari Bom Boston sampai Ledakan Pabrik Pupuk

Kompas.com - 19/04/2013, 04:10 WIB

Pieter P Gero

Suasana tidak lepas dan kurang ceria terlihat pada sebagian besar dari 5.000 peserta Konferensi dan Ekshibisi Gas Alam Cair (LNG) Ke-17, di Convention Center di Houston, Texas, Amerika Serikat, Selasa (16/4). Maklum, sehari sebelumnya, dua ledakan saat lomba Maraton Boston, di Boston, Massachusetts, menyebabkan tiga orang tewas dan puluhan orang cedera.

Para peserta konferensi tiga tahunan ini langsung dihadapkan dengan pemeriksaan keamanan yang lebih ketat saat masuk ke ruang konferensi seluas 250.000 meter persegi itu. Sejak pidato awal, semua pembicara tak lupa menyatakan keprihatinan dan berduka atas peristiwa berdarah itu. Bendera AS dan bendera Negara Bagian Texas pun dikibarkan setengah tiang.

Semua saluran televisi tak henti menyiarkan perkembangan di Boston, yang disebut sebagai ”peristiwa yang telah mengusik ketenteraman AS” sejak kejadian serangan teroris atas menara kembar World Trade Center, di New York, 11 September 2001.

Belum sembuh kekagetan masyarakat AS akan kejadian di Boston, musibah lain menyusul. Rabu (17/4) malam, ledakan besar terjadi di pabrik pupuk di West, kota kecil sekitar 70 kilometer di utara Waco, Texas.

”Ledakan sangat keras, seperti gempa,” ujar Marie Horak kepada CBS News. Horak adalah penghuni rumah jompo di dekat pabrik pupuk tersebut. Sejauh ini belum diketahui pasti jumlah korban tewas.

Namun, ledakan ini jelas sangat mematikan mengingat kerusakan pada rumah, gedung, dan kendaraan di sekitarnya. Asap putih membubung tinggi. Suara ledakan terdengar sejauh 60 kilometer.

Gambar kerusakan memperlihatkan lingkungan di sekitar pabrik itu bagaikan baru saja dihantam tornado atau badai dahsyat. ”Ini ledakan cukup besar,” ujar Al Busyra Basnur, Konsul Jenderal RI di Houston, yang saat ledakan terjadi sedang menjamu santap malam delegasi Indonesia pada LNG Ke-17, di rumahnya di pinggiran Houston.

Lokasi ledakan yang masuk wilayah kerja Basnur membuat ia segera bergegas mengumpulkan informasi. Ada belasan ribu warga negara Indonesia di Texas.

Ledakan di pabrik pupuk ini sangat mengejutkan dan memukul AS. Ucapan belasungkawa dilayangkan para pemimpin dunia, termasuk Paus Fransiskus, kepada Presiden Barack Obama dan Pemerintah AS.

Apa pun alasan di balik dua musibah yang menimpa AS itu, yang jelas rasa nyaman dan tenang warga AS kembali terusik. Trauma serangan teroris 11 September 2001 yang mulai sirna kembali muncul. Luka lama seperti kambuh kembali.

Dan suasana dalam LNG Ke-17 di Houston. Kamis pagi, kembali sedih, tak ceria. Bendera setengah tiang pun kembali berkibar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau