Remaja Asal Maroko: Saya Bukan Teroris!

Kompas.com - 19/04/2013, 13:28 WIB

KOMPAS.com — Seorang siswa SMA kelahiran Maroko secara keliru diidentifikasi sebagai tersangka bom Boston yang menewaskan tiga orang dan mencederai 180 orang lainnya pada Senin (15/4) lalu. Foto diri remaja berumur 17 tahun yang bernama Sulahaddin Barhoum itu terpampang di halaman depan sebuah surat kabar utama AS. Ia diberitakan sebagai orang yang sedang diidentifikasi para penegak hukum sehubungan dengan ledakan bom kembar di Maraton Boston.

Tentu saja remaja itu terkejut saat menemukan dirinya dijadikan terduga pelaku. Ia pun bergegas ke kantor polisi untuk memulihkan namanya, setelah foto dirinya dan seorang laki-laki lainnya, yang diyakini pelatihnya, terpampang di halaman depan harian New York Post dengan judul, "PRIA BERTAS: FBI sedang mencari kedua orang yang terekam di Boston Marathon ini."

Para penyelidik pun menegaskan, mereka berdua, dia dan pelatihnya yang tidak disebutkan namanya, tidak terkait dengan ledakan itu.

Barhoum menahan air matanya saat menceritakan bagaimana ia meminta polisi untuk membantunya memulihkan namanya. Ia mencengkeram segenggam medali berpita putih biru dan merah yang diraihnya dari lomba lari saat mengatakan kepada MailOnline tentang ketakutannya karena telah difitnah.

Barhoum, yang empat tahun lalu pindah ke AS bersama keluarganya, mengatakan, "Pada Rabu larut malam, teman-teman mulai menelepon dan mengirim e-mail ke saya. Mereka mengatakan foto saya ada di internet, bahwa saya adalah tersangka bom Boston. Saya takut, saya tidak pernah berada dalam kesulitan dan saya takut akan keamanan saya," katanya.

"Pada pukul 01.30, saya menelepon seorang teman untuk mengantar saya ke polisi negara bagian. Saya berjalan di lobi dan mengatakan kepada mereka, saya pikir saya yang dicari FBI. Saya membawa surat-surat saya dan saya memberi mereka nomor jaminan sosial saya sehingga mereka bisa memeriksa saya. Mereka bahkan tidak membawa saya ke sebuah ruangan khusus. Mereka melakukan sejumlah panggilan telepon, kemudian berkata saya boleh pulang."

Ia melanjutkan, "Saya ada di sana sekitar 25 menit, tapi saya sangat takut. Foto saya ada di internet dan saya khawatir bahwa seseorang, seorang gila, mungkin mengejar saya dan keluarga saya. Saya punya dua adik, berusia tiga dan tujuh tahun, dan seorang saudara usia 15 tahun. Kami tidak punya perlindungan."

Barhoum dan pelatihnya terekam kamera keamanan berjalan di dekat garis finis lomba lari maraton pada Senin itu sebelum bom meledak. Pelatih itu, yang berusia pertengahan tiga puluhan, mengenakan topi baseball putih dan jaket hitam. Barhoum mengenakan kaus biru. Keduanya membawa ransel saat berjalan untuk mendapatkan posisi terbaik untuk menonton. "Kami berada di sana untuk menonton pelari tercepat," kata Barhoum, yang mewakili sekolahnya, dan South Boston, di lomba lari.

"Kami terus bergerak untuk mencoba dan mendapatkan posisi yang lebih baik. Ini kali pertama saya benar-benar melihat maraton, biasanya hanya menonton di TV. Kami berencana untuk berlari di maraton New York pada November mendatang, dan saya ingin melihat perlombaan Boston secara langsung. Saat pelari tercepat melintasi garis finis, kami berusaha menemukan tempat yang bagus karena lokasi itu penuh sesak. Kami berdiri dekat Dunkin Donuts, kemudian kami pindah ke dekat toko lain, beberapa tenda dan, saya pikir, sebuah stasiun pemadam kebakaran. Kami meninggalkan tempat itu setelah pelari tercepat berlalu, saya pikir itu sekitar dua jam sebelum bom meledak. Kemudian saya pulang. Saat di kereta bawah tanah, ibu saya berusaha menelepon saya untuk memastikan saya baik-baik saja karena bom baru saja meledak," tuturnya kepada MailOnline.

Remaja Massachusetts itu mengatakan, awalnya ia ingin ikut berlari di maraton itu, tetapi ketika tidak bisa, ia memutuskan untuk jadi penonton saja.

Di harian New York Post, wajahnya dan pelatihnya diberi lingkaran merah. Lokasinya tepat saat mereka berdiri di antara penonton di dekat garis finis.

Kepada ABC News, Barhoum mengatakan, ketika melihat fotonya di halaman depan dan kemudian beredar di media sosial, ia merasakan "mungkin perasaan terburuk yang pernah saya bisa rasakan .... Saya baru 17 tahun. Ke mana pun saya pergi, saya tidak mau melihat orang lain karena ketika mereka melihat saya, mereka akan mengatakan, 'Oh, kamu yang melakukan itu, bagaimana bisa kamu lakukan itu? Mengapa kamu melakukan itu? Begitu banyak orang yang kamu bunuh, seorang anak delapan tahun. Kamu melukai orang-orang. Keluarga mereka akan merasa begitu menderita dengan apa yang kamu lakukan."

Saudaranya mengatakan, ibu mereka sangat marah dengan terpampangnya wajah Barhoum. Ibunya itu awalnya takut bahwa anaknya memang telah melakukan sesuatu yang salah.

Laporan The New York Post mengatakan, foto kedua orang itu diedarkan para penyelidik "dalam upaya untuk mengidentifikasi individu yang disorot di dalamnya". Laporan itu melanjutkan, "Sementara itu, para pejabat telah mengidentifikasi dua terduga pelaku yang tertangkap video surveillance yang diambil sesaat sebelum ledakan bom, kata sejumlah sumber penegak hukum kepada Post..."

"Tidak segera jelas apakah pria dalam foto para penegakan hukum merupakan orang-orang yang sama dalam video surveillance."

Laporan itu kemudian diperbarui dengan menyertakan link ke laporan lain yang mengatakan bahwa para penyelidik telah memulihkan nama dua orang itu. "Pihak berwenang menegaskan tidak satu pun dari mereka punya informasi atau peran dalam serangan pada hari Senin di Boston Marathon," kata laporan itu.

Kamis malam waktu AS, FBI merilis foto-foto dan rekaman CCTV dari dua pria yang berbeda yang diidentifikasi berpotensi jadi tersangka dalam pengeboman 15 April itu. Salah satu dari pria itu terekam menaruh tas hitam di dekat salah satu situs ledakan.

Editor New York Post, Col Allan, membela keputusan surat kabarnya menerbitkan laporan itu ketika ditanya oleh The Huffington Post. "Kami mempertahankan laporan kami. Foto itu di-email ke lembaga penegak hukum kemarin sore untuk mencari informasi tentang orang-orang itu, seperti diberitakan dalam laporan kami. Kami tidak mengidentifikasi mereka sebagai tersangka," katanya.

Gawker melaporkan bahwa ketika foto Barhoum dan orang kedua itu mulai beredar, para pengguna Reddit dengan cepat mengidentifikasi salah satu dari mereka sebagai "anak Amerika asal Maroko, pemain sepak bola SMA lokal dan pelari ... yang bekerja di Subway serta suka How High dan The Hunger Games." Para pengguna Reddit juga menemukan halaman Facebook-nya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau