AS Pertimbangkan untuk Mempersenjatai Pemberontak Suriah

Kompas.com - 03/05/2013, 09:04 WIB

Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel menyatakan tengah mempertimbangkan untuk mempersenjatai pasukan pemberontak Suriah. Pernyataan ini merupakan pertama kalinya diungkap secara terbuka oleh seorang pejabat senior AS setelah tahun lalu Presiden Barack Obama pernah menolak usulan serupa.

Namun, baru-baru ini, Obama menegaskan, Amerika Serikat sekarang mencari ''berbagai opsi'' di Suriah.

Berbicara di Washington, Hagel mengonfirmasikan sikap AS yang mempertimbangkan untuk menyediakan senjata bagi para pemberontak, tetapi menekankan bahwa belum ada keputusan yang dibuat. "Mempersenjatai pemberontak itu adalah salah satu opsi,'' katanya kepada wartawan.

"Anda mencari dan berpikir tentang semua opsi. Bukan berarti Anda menjalankan atau akan melakukannya. Ini adalah opsi yang harus dipertimbangkan bersama komunitas internasional: apa yang memungkinkan, apa yang bisa melengkapi tujuan kami.''

Komentar ini disampaikan Hagel dalam sebuah keterangan pers bersama Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond. Hammond sendiri mengatakan bahwa Inggris sejauh ini belum bisa menyediakan senjata karena ada larangan dari Uni Eropa untuk mempersenjatai pemberontak.

"Kami akan melihat situasi saat larangan tersebut berakhir dalam beberapa pekan lagi," tambahnya.

Senjata kimia

Presiden Obama saat kunjungan ke Meksiko, Kamis kemarin, mengatakan bahwa AS terus mengevaluasi situasi di lapangan untuk mencari cara terbaik dalam transisi politik.

"Seperti yang kita lihat bukti pertumpahan darah yang terus berlanjut, adanya potensi penggunaan senjata kimia di Suriah, apa yang saya katakan adalah kami akan mencari semua opsi," tambah Obama.

Wartawan BBC di Washington melaporkan, tanpa ada intervensi militer langsung, banyak pejabat AS yang merasa bahwa mempersenjatai pemberontak adalah opsi yang paling sedikit buruk.

Tekanan untuk meningkatkan tindakan semakin berkembang dalam beberapa hari setelah sejumlah bukti mengemuka bahwa rezim Assad menggunakan senjata kimia jenis gas saraf sarin.

Presiden Obama pekan lalu menjanjikan sebuah ''penyelidikan menyeluruh'' terkait isu tersebut dan memperingatkan bahwa akan ada ''perubahan strategi'' kebijakan AS jika laporan tersebut terbukti benar.

Namun, Hagel dan Hammond mengindikasikan bahwa bukti penggunaan senjata kimia tidak cukup untuk memicu respons internasional. Hammond mengatakan, publik masih ingat klaim senjata pemusnah massal yang digunakan untuk menginvasi Irak di tahun 2003, yang ternyata tidak terbukti.

"Ada pandangan kuat bahwa kita harus memiliki bukti yang sangat jelas dan berkualitas tinggi sebelum kita membuat rencana dan bertindak atas bukti tersebut,'' katanya.

Pemerintah Suriah sendiri membantah tudingan yang menyebut pasukan mereka menggunakan senjata kimia dengan menyebut tuduhan negara Barat ''tidak memiliki kredibilitas''.

Sementara itu, pengamat HAM yang basis Inggris SOHR mengatakan tengah menyelidiki laporan yang menyebut adanya pembantaian terhadap sedikitnya 50 orang, termasuk wanita dan anak-anak di kawasan barat laut desa al-Bayda, Banias.

Sebelumnya, pertempuran hebat juga kembali pecah Kamis pagi antara pasukan pemerintah dengan pemberontak di dekat desa tersebut.

Lebih dari 70.000 orang tewas sejak pertempuran antara pasukan pemerintah Suriah dan pemberontak yang pecah pada Maret 2011.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau