Senin, 8 Maret 2021
ADVERTORIAL

Hulu Migas Bergulir, Nafas Bangsa Mengalir

Senin, 27 Juli 2015 | 09:01 WIB
-

Kegiatan penambangan sumber daya alam minyak dan gas bumi (migas) nasional adalah upaya besar untuk menghasilkan sumber energi penggerak kehidupan masyarakat. Lebih jauh lagi, kegiatan di sektor hulu migas tersebut juga menjadi salah satu andalan bagi pemerintah dalam memenuhi target penerimaan negara yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahunnya . Tak ayal, penentuan target produksi migas di sektor ini selalu menjadi bagian hirauan masyarakat. 

Tahun ini misalnya, para perusahaan yang bergerak di sektor hulu migas, dikenal dengan istilah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), harus bahu membahu untuk mengejar target produksi terbukti (lifting) migas yang diamanatkan dalam APBN Perubahan (APBN-P), yaitu sebesar 825 ribu barel per hari (BPH) untuk minyak dan 6.835  juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk gas.

Di tengah tuntutan untuk memenuhi target tersebut, sektor hulu migas menghadapi tantangan yang tidak mudah. Sebagaimana diketahuin, sumber daya migas merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbarui. Di sisi lain, lapangan-lapangan migas utama di Indonesia sudah berproduksi cukup lama sehingga penurunan produksi secara alamiah tidak dapat dielakkan. Di sinilah industri hulu migas menghadapi tantangan untuk tetap menjaga produksi serta mengeksplorasi lapangan-lapangan baru dengan medan yang lebih menantang.

Karena itu, pencapaian  lifting minyak bumi per 30 Juni 2015 sebesar 763.600 BPH atau 92,6% dari target APBN-P menjadi bagian dari upaya pelaku usaha sektor hulu migas tersebut untuk memaksimalkan produksi secara efisien. Hingga akhir semester pertama 2015 itu, capaian lifting gas bumi mencapai 6.587 MMSCFD atau 96,4% dari target 6.835  MMSCFD. Secara total, lifting migas sebesar 1,94 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD) atau 94,8% dari target 2,045 MBOEPD.

Sepanjang semester I 2015 sektor hulu migas mencatat penerimaan sebesar US$7 miliar atau sekitar Rp92,5 triliun, hampir separuh dari target APBN-P 2015 sebesar US$14,99 miliar atau sekitar Rp198 triliun.

“Kami optimis target tersebut masih bisa tercapai,” kata Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, saat menyampaikan konferensi pers kinerja tengah tahun industri hulu migas beberapa waktu yang lalu.

Pihaknya pun mengapresiasi kinerja KKKS yang berhasil mencapai target produksi yang telah ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran (work program and budget/WP&B). Ia pun  mendorong KKKS yang belum mencapai target untuk meningkatkan kinerja sesuai acuan target yang disepakati dengan SKK Migas tersebut.

Sejatinya, kegiatan sektor hulu migas yang sarat biaya dan teknologi ini melalui proses panjang yang diawali dengan penandatanganan kontrak kerja sama atau kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dengan KKKS

Berbagai upaya pun dilakukan guna menahan laju penurunan produksi, salah satunya melalui pencarian cadangan baru melalui kegiatan eksplorasi. Kegiatan eksplorasi yang antara lain terdiri atas studi geologi, studi geofisika, survei seismik, dan pengeboran eksplorasi adalah tahap awal kegiatan usaha hulu migas untuk mencari cadangan baru. Saat ini lebih  200 KKKS sedang melakukan kegiatan eksplorasi migas.

Jika berhasil menemukan cadangan yang ekonomis, kegiatan akan dilanjutkan ke tahap produksi yakni proses mengangkat migas ke permukaan bumi. Produk tersebut kemudian dialirkan ke separator dan selanjutnya ke tangki pengumpul atau, untuk gas, ke fasilitas yang akan memanfaatkan.

Memang butuh kerja keras untuk mempertahankan ataupun menambah kontribusi sektor hulu migas bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Namun di atas semua itu, semua pelaku usaha hulu migas butuh sikap profesional, responsif, menjunjung kebersamaan dalam perbedaan, tegas, fokus untuk kepentingan bangsa sehingga mendapat kerpercayaan dari masyarakat. Supaya di saat hulu migas bergulir, napas bangsa pun tetap mengalir. (Adv)