Warga Lokal Tuan Rumah di Industri Hulu Minyak dan Gas Nasional

Kompas.com - 12/10/2015, 09:07 WIB


Dengan seragam kerja lapangan (coverall), Nurdin dan Suhartang tampak gagah membawa salah satu unit emergency rescue seberat dua ton itu ke lapangan terbuka. Dua pemuda yang masih berusia 21 tahun ini ini pun dengan cekatan mempersiapkan semua perlengkapan keselamatan tersebut tanpa hambatan.  

Siapa nyana, Nurdin dan Suhartang yang kini bertugas mengecek keselamatan operasi di sebuah perusahaan migas multinasional di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini dulunya hanya dua anak desa yang bermimpi bekerja di perusahaan migas skala dunia. 

"Dulu kami hanya bisa menatap iri melihat aktivitas karyawan perusahaan migas yang kebanyakan adalah pendatang yang hilir mudik dengan mobil perusahaan," tutur Nurdin, beberapa waktu lalu. 

Nasib mereka berubah saat kontraktor kontrak kerja sama (Kontraktor KKS) migas  tersebut memberikan kuota pelatihan dan magang untuk 10 orang warga lokal lulusan sekolah menengah atas dan kejuruan di sekitar wilayah kerja mereka.  Usai melewati beberapa tes, Nurdin dan Suhartang lulus dan mengikuti pelatihan emergency rescue team selama 3 bulan sebelum akhirnya resmi menjadi karyawan kontraktor KKS tersebut di awal 2013.  

Alhamdulillah, sudah dua tahun lebih kami bekerja. Kami terus meningkatkan kompetensi dengan mengikuti berbagai pelatihan karena kami ingin menjadi pekerja migas yang profesional,” kata Suhartang. 

Kini Suhartang dan Nurdin bersama 103 anak desa lainnya patut berbangga hati mendapat kesempatan bekerja dan meningkatkan kompetensi di perusahaan migas. Selain jaminan hidup mapan, status sosial yang mereka sandang tentu juga akan semakin meningkat di masyarakat. 

Bisa juga ditengok apa yang dilakukan di dua lapangan minyak dan gas bumi (migas) milik pemerintah Indonesia di perairan Madura yang dikelola sebuah kontraktor KKS yang mulai berproduksi pada semester I 2015 lalu. Sebagai komitmen meningkatkan pemberdayaan kapabilitas dan kapasitas TKI, SKK Migas melakukan program pengembangan pekerja lintas Kontraktor KKS. 

Hal itu diwujudkan dengan menempatkan pekerja lokal yang direkrut dari warga sekitar wilayah kerja kontraktor KKS migas itu untuk magang di proyek milik dua kontraktor KKS lain di Jawa Timur selama enam bulan. Hasilnya, menunjukkan adanya peningkatan kompetensi dasar dalam hal sikap kerja, keterampilan teknik, serta hal terkait dengan keselamatan kerja pada semua peserta. 

"SKK Migas berharap kontraktor KKS lainnya, terutama yang telah mendapat persetujuan rencana pengembangan lapangan (POD), melakukan upaya sejenis dalam mengembangkan tenaga kerjanya," ujar Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudianto Rimbono. 

Di sisi lain, lanjutnya, kontraktor yang sudah berproduksi, hendaknya membuka pintu lebar-lebar untuk membantu kontraktor lain memberikan tempat belajar bagi tenaga kerja Indonesia. "Karena bisnis hulu migas adalah proyek negara, kontraktor migas tidak boleh terkotak-kotak," tuturnya.

Industri hulu migas yang padat modal dan padat teknologi memang menuntut sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Namun kualifikasi untuk tenaga kerja yang terampil dan memiliki keahlian (skill) tersebut diiringi dengan tingkat penghasilan dan fasiltas yang layak sehingga menjadi sektor yang cukup diminati para pencari kerja yang sudah berpengalaman (profesional) maupun untuk mereka yang baru saja selesai mencecap bangku pendidikan (fresh graduate).  

Data SKK Migas menunjukkan, serapan TKI terus meningkat seiring bertambahnya jumlah kontraktor kontrak kerja sama (Kontraktor KKS) yang melakukan eksplorasi di wilayah kerja migas baru maupun pengembangan wilayah kerja existing. Hingga akhir 2014, sektor hulu migas menyerap 32.292 TKI, berbanding dengan 1.165 TKA (3,6%).  Artinya, secara persentase jumlah pekerja nasional di industri hulu migas mencapai 96,4%. 

Penggunaan tenaga kerja lokal di industri hulu migas nasional sejatinya bukan lagi sebuah isu yang harus didiskusikan. Komitmen menjadikan tenaga kerja lokal sebagai tuan rumah di industri hulu migas nasional sudah telah lama berjalan dengan serapan yang terus meningkat secara optimal. (Adv)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau