Jangan Remehkan Perempuan saat Bicara Perekonomian!

Kompas.com - 09/12/2015, 17:43 WIB


KOMPAS.com – Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat pertumbuhan jumlah pekerja perempuan meningkat setiap tahunnya. Pada 2015, 38 persen dari 120 juta pekerja di Indonesia adalah wanita. 

“Indonesia merupakan negara yang lebih terbuka menerima kehadiran wanita di dunia kerja. Nilai rata-ratanya lebih besar jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya,” kata Shinta Kamdani, CEO Sintesa Group dalam seminar BusinessThink Indonesia yang diselenggarakan University New South Wales (UNSW), akhir November lalu. 

Kenyataan ini membuka potensi besar bagi wanita untuk terjun baik sebagai pekerja atau pelaku wirausaha. Populasinya yang mencapai hampir setengah total penduduk dapat membantu kemajuan perekonomian Tanah Air. 

“Umumnya, kendala keuangan menjadi faktor terbesar bagi wanita untuk berwirausaha. Namun, bukan tidak mungkin bisa berkembang lebih jauh jika mendapatkan pengajaran lebih jauh,” kata Shinta. 

Wanita pada dasarnya dapat menjadi penggerak roda ekonomi, misal menopang keuangan rumah tangga dengan berjualan. Ketika disadarkan akan haknya atas pendidikan, kesehatan, pendapatan, hingga tugas dalam keluarga, kontribusi pada perekonomian dapat tercapai. 

Pada saat yang sama, Dino Patti Djalal, Pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia, turut menyatakan bahwa saat ini merupakan waktu terbaik menjadi orang Indonesia. Selain ekonomi yang terus berkembang, Tanah Air memegang jumlah kelas menengah terbesar di seluruh Asia dan terbukti memiliki perilaku ‘siap kerja’. 

“Sekarang kesempatan maju terbuka besar, salah satunya membangun jika kita bisa berwirausaha dan berinovasi. Tak bisa dimungkiri bahwa masyarakat Indonesia pintar menciptakan peluang baru dan membangunnya dari awal,” ujar Dino. 

Menurut Dino, kemajuan wirausaha di negeri ini hanya tinggal menyelaraskan ekosistem antara pemerintah dan swasta. Tentu saja, sebaiknya sejalan dengan membina hubungan antarnegara tetangga. 

-

Kerja Sama Luar Negeri 

Kerja sama ekonomi antarnegara dilakukan sejalan akan kebutuhan sebuah negara melakukan investasi usaha dari negara satu ke negara lain sehingga dapat mendorong perekonomian negara yang bersangkutan. Ini juga menjadi kesempatan saling melengkapi kekurangan dalam bidang ekonomi. 

Salah satu rekan bisnis terlama yang dimiliki Indonesia adalah Australia. Sejak 1940, pada era awal kemerdekaan, Australia telah menjalin kesepakatan dalam beragam bidang, seperti perdagangan, investasi, dan pendidikan. 

“Indonesia sedang berkembang dari segi ekonomi dan demokrasi, serta rekan bisnis penting bagi Australia. Untuk membangun perekonomian lebih besar, kita butuh lebih banyak investasi agar mampu memanfaatkan kesempatan besar yang datang,” kata Tim Harcourt, penerima J.W. Nevile Fellow dalam bidang Ekonomi di UNSW Business School. 

Dalam sektor pendidikan, contohnya. UNSW Business School jalinan kemitraan dengan Indonesia terus menjadi fokus utama. Kerja sama dibangun melalui hubungan mendalam dan efektif untuk siswa baru, alumni, bisnis, dan rekan penelitian dalam skala regional. 

“Selain itu, investasi swasta diharapkan meningkat sejalan rangkaian paket kebijakan pemerintah dan deregulasi yang mendukung iklim investasi,” tambah Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Panjaitan, yang turut hadir pada acara tersebut

Luhut melanjutan, beberapa perubahan peraturan pro-bisnis mengubah suasana bisnis lebih kondusif sekaligus berpengaruh pada infrastruktur Indonesia. Seperti, efektivitas pembangunan banyak jalan, jalur kereta cepat di Pulau Jawa, dan sistem kendaraan di Jakarta yang dibiayai oleh pengurangan subsidi BBM. 

“Indonesia menghadapi lebih dari sekadar momen perkembangan ekonomi. masih banyak yang harus diselesaikan tetapi saya yakin bias lebih baik di masa depan,” tutup Luhut. (Adv)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau