KOMPAS.com – Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat pertumbuhan jumlah pekerja perempuan meningkat setiap tahunnya. Pada 2015, 38 persen dari 120 juta pekerja di Indonesia adalah wanita.
“Indonesia merupakan negara yang lebih terbuka menerima kehadiran wanita di dunia kerja. Nilai rata-ratanya lebih besar jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya,” kata Shinta Kamdani, CEO Sintesa Group dalam seminar BusinessThink Indonesia yang diselenggarakan University New South Wales (UNSW), akhir November lalu.
Kenyataan ini membuka potensi besar bagi wanita untuk terjun baik sebagai pekerja atau pelaku wirausaha. Populasinya yang mencapai hampir setengah total penduduk dapat membantu kemajuan perekonomian Tanah Air.
“Umumnya, kendala keuangan menjadi faktor terbesar bagi wanita untuk berwirausaha. Namun, bukan tidak mungkin bisa berkembang lebih jauh jika mendapatkan pengajaran lebih jauh,” kata Shinta.
Wanita pada dasarnya dapat menjadi penggerak roda ekonomi, misal menopang keuangan rumah tangga dengan berjualan. Ketika disadarkan akan haknya atas pendidikan, kesehatan, pendapatan, hingga tugas dalam keluarga, kontribusi pada perekonomian dapat tercapai.
Pada saat yang sama, Dino Patti Djalal, Pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia, turut menyatakan bahwa saat ini merupakan waktu terbaik menjadi orang Indonesia. Selain ekonomi yang terus berkembang, Tanah Air memegang jumlah kelas menengah terbesar di seluruh Asia dan terbukti memiliki perilaku ‘siap kerja’.
“Sekarang kesempatan maju terbuka besar, salah satunya membangun jika kita bisa berwirausaha dan berinovasi. Tak bisa dimungkiri bahwa masyarakat Indonesia pintar menciptakan peluang baru dan membangunnya dari awal,” ujar Dino.
Menurut Dino, kemajuan wirausaha di negeri ini hanya tinggal menyelaraskan ekosistem antara pemerintah dan swasta. Tentu saja, sebaiknya sejalan dengan membina hubungan antarnegara tetangga.
-Kerja Sama Luar Negeri
Kerja sama ekonomi antarnegara dilakukan sejalan akan kebutuhan sebuah negara melakukan investasi usaha dari negara satu ke negara lain sehingga dapat mendorong perekonomian negara yang bersangkutan. Ini juga menjadi kesempatan saling melengkapi kekurangan dalam bidang ekonomi.
Salah satu rekan bisnis terlama yang dimiliki Indonesia adalah Australia. Sejak 1940, pada era awal kemerdekaan, Australia telah menjalin kesepakatan dalam beragam bidang, seperti perdagangan, investasi, dan pendidikan.
“Indonesia sedang berkembang dari segi ekonomi dan demokrasi, serta rekan bisnis penting bagi Australia. Untuk membangun perekonomian lebih besar, kita butuh lebih banyak investasi agar mampu memanfaatkan kesempatan besar yang datang,” kata Tim Harcourt, penerima J.W. Nevile Fellow dalam bidang Ekonomi di UNSW Business School.
Dalam sektor pendidikan, contohnya. UNSW Business School jalinan kemitraan dengan Indonesia terus menjadi fokus utama. Kerja sama dibangun melalui hubungan mendalam dan efektif untuk siswa baru, alumni, bisnis, dan rekan penelitian dalam skala regional.
“Selain itu, investasi swasta diharapkan meningkat sejalan rangkaian paket kebijakan pemerintah dan deregulasi yang mendukung iklim investasi,” tambah Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Panjaitan, yang turut hadir pada acara tersebut.
Luhut melanjutan, beberapa perubahan peraturan pro-bisnis mengubah suasana bisnis lebih kondusif sekaligus berpengaruh pada infrastruktur Indonesia. Seperti, efektivitas pembangunan banyak jalan, jalur kereta cepat di Pulau Jawa, dan sistem kendaraan di Jakarta yang dibiayai oleh pengurangan subsidi BBM.
“Indonesia menghadapi lebih dari sekadar momen perkembangan ekonomi. masih banyak yang harus diselesaikan tetapi saya yakin bias lebih baik di masa depan,” tutup Luhut. (Adv)