Advertorial

Konsolidasi Nasional Muhammadiyah: Peneguhan Posisi Muhammadiyah Dalam Dinamika Kebangsaan

Kompas.com - 24/05/2016, 08:42 WIB

Konsolidasi nasional organisasi Muhammadiyah yang dilangsungkan di gedung kembar Ar. Fachruddin B lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Minggu (22/5/2016), menjadi konsolidasi nasional pertama yang diadakan setelah agenda Muktamar Muhammadiyah ke-47 bulan Agustus 2015 lalu.

Konsolidasi nasional ini diikuti oleh seluruh pimpinan pusat Persyarikatan Muhammadiyah, pimpinan Aisyiah, seluruh jajaran otonom, petinggi perguruan tinggi Muhammadiyah, dan mantan pengurus Muhammadiyah.

Fokus dari konsolidasi ini adalah perumusan  visi misi dan program kerja yang telah diputuskan dalam Muktamar ke-47 lalu untuk lima tahun ke depan.

Seiring berkembangnya organisasi Muhammadiyah, kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah juga mulai meningkat. Posisi dan peran Muhammadiyah juga turut diperhitungkan dalam dinamika kebangsaan. Sebab itulah dibutuhkan persamaan persepsi dalam visi misi Muhammadiyah untuk meneguhkan posisi dan peran Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat yang turut mendorong kemajuan bangsa.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020 Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, menyampaikan bahwa agenda konsolidasi yang menjadi rangkaian Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) yang diadakan di Universtas Muhammadiyah Yogyakarta ini sudah dicanangkan sejak awal setelah Muktamar Muhammadiyah ke-47.

"Ketika PP Muhammadiyah melakukan silaturahim dengan Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo, sudah terbesit untuk mengadakan konsolidasi nasional yang diproyeksikan untuk kepentingan yang lebih luas" jelas Dr. H. Haedar Nashir, M.Si dalam sambutan konsolidasi nasional.

Penandatanganan 5 Prasasti oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo

Haedar Nashir menambahkan bahwa KNIB ini diadakan dalam momentum yang tepat. Sebab kondisi bangsa Indonesia saat ini cukup terguncang dengan beberapa isu seperti isu komunisme, meluasnya isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), termasuk isu terorisme di mana Muhammadiyah pernah melakukan advokasi terhadap Siyono.

Haedar menganggap isu-isu tersebut bukanlah isu yang sederhana sehingga penting bagi Muhammadiyah untuk memperkuat peran dan posisinya dalam dinamika bangsa sebagai gerakan amar ma'ruf nahi munkar.

"Jika kita tidak pandai dan bijak, serta tidak berpijak pada Muhammadiyah, maka  hanya ada dua pilihan yaitu menarik diri karena rezim tidak sesuai dengan kita atau mengambil alih dan bersikap pragmatis seperti yang dilakukan partai politik", jelas Haedar.

Di akhir sambutannya, Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan Muhammadiyah ketika berbenturan dengan kepentingan politik selama ini sudah tepat sebagai organisasi masyarakat, yakni Muhammadiyah tidak terpecah belah oleh kepentingan politik. (Adv)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau