Advertorial

Masih Dicari, Srikandi Pebulutangkis Indonesia

Kompas.com - 02/09/2016, 17:37 WIB

Sektor bulutangkis putri Indonesia masih Sektor bulutangkis putri Indonesia masih paceklik. Sejak era Susi Susanti sampai Maria Kristin, belum ada lagi pemain putri yang berprestasi tinggi. 

Legenda bulutangkis Indonesia, Cristian Hadinata saat press conference Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis, Rabu (31/8) mengungkapkan minimnya prestasi atlet putri karena tidak ada sosok yang dapat dijadikan panutan. “Panutan itu penting untuk memberi motivasi kepada pemain-pemain muda. Kalau senior yang sudah terbukti kualitasnya baik di kancah nasional maupun internasional yang memberikan arahan, pemain akan lebih percaya,” kata Cristian yang juga sebagai tim pemandu bakat Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016.

Indonesia,” ujar peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 tersebut.Susi Susanti, legenda bulutangkis putri Indonesia sependapat dengan Cristian. Menurutnya, atlet putri membutuhkan sosok panutan dan apresiasi dari pemerintah. “Apresiasi dari Kemenpora sudah sangat bagus. Harus terus dipertahankan untuk merangsang semangat pemain-pemain  putri

Masih Dicari

Usaha untuk mencari atlet bulutangkis putri Indonesia yang jempolan menurut Corporad Comunication Manager Djarum, Andreas Hana? dilakukan dengan menyelenggarakan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. “Audisi diadakan di sembilan kota,” kata Andreas. Kota-kota tersebut adalah Bandung, Palembang, Balik Papan, Makasar, Cirebon, Solo, Purwokerto, Surabaya, dan terakhir Kudus.

Prosentase keikutsertaan peserta dalam Audisi PB Djarum  putri setiap tahunnya berbeda-beda. Tahun ini, menurut Andreas kira-kira 65% putra dan 35% putri. “Pemain putri tidak sebanyak pemain putra,” ujar Andreas. Humas PBSI, Yuni Kartika, mengatakan perbandingan jumlah peserta putra dengan putri dalam suatu audisi bulutangkis di Indonesia adalah 4 : 1. “Ada banyak alasan mengapa peserta putri lebih sedikit, di antaranya kurangnya minat, minder, dan lebih mementingkan hal-hal lain seperti belanja, jalan-jalan, dibandingkan menjadi atlet yang setiap hari harus berlatih,” kata Yuni. 

Menurut Andreas, di setiap kota  akan diambil dua grand ?nalis putri yang berhak masuk Klub PB Djarum. “Kami juga memberikan Super Tiket di setiap kota dengan jumlah yang berbeda-beda tergantung peserta yang ada,” tambah Andreas. Super Tiket adalah kartu bagi peserta audisi yang tidak masuk grand ?nalis, namun memiliki potensi besar untuk menjadi atlet putri unggulan.

Selain melakukan audisi, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi minimnya prestasi pebulutangkis putri Indonesia. Menurut Cristian, ada cara untuk menerapkan role mode dari pelatih-pelatih di Pelatnas. “Pelatih memiliki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan kepada atlet. Contohnya pelatih yang dapat memberikan role mode adalah Richard Mainaky,” ujar Cristian. Richard dapat mengangkat derajat nomor ganda campuran Indonesia setelah berhasil melatih Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir menjadi juara Olimpiade Rio 2016, meskipun tidak memiliki tokoh panutan. “Kemenangan mereka dapat dicontoh oleh para pelatih-pelatih atlet bulutangkis Indonesia,” kata Cristian.

Susi Susanti dalam press conference  di Gor Jati, Kudus, (31/8) mengatakan putri-putri Indonesia tidak boleh berhenti berjuang untuk menjadi atlet bulutangkis Indonesia yang berprestasi hebat. “Kalau kalian mau kerja keras, tidak ada yang tidak mungkin. No think imposible,” kata Susi. AZIM, ELS, ERLINGG, USI (Adv)

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau