Advertorial

Tri Harjani, Guru yang Mendidik dengan Hati

Kompas.com - 07/09/2016, 09:55 WIB
 Tri Harjanti saat mengajar para muridnya dengan metode belajar yang kreatif, efektif, dan menyenangkan  Tri Harjanti saat mengajar para muridnya dengan metode belajar yang kreatif, efektif, dan menyenangkan

Menjadi transmigran adalah pilihan kehidupan bagi Tri Harjani dan suami serta anak balitanya. Namun, di tanah seberang, hidup Tri menjadi lebih bermakna. Tak hanya untuk keluarga tapi juga untuk banyak orang.

Berkehendak mengubah nasib, Tri yang lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 24 Desember 1972, harus rela bersama suami tercinta menjadi transmigran. Pada tahun 1996 silam, Tri memulai kehidupan yang serba baru di Kabupaten Tebo, yang berlokasi sekitar 7 jam dari Jambi, ibu kota Provinsi.  

Menjadi transmigran memang tak gampang. Pemerintah kala itu hanya menyediakan lahan mentah. Para transmigran lah yang harus mengolah sendiri tanah tersebut agar bisa menghasilkan.

Tri mengenang, di tahun-tahun awal sebagai transmigran sering membuatnya khawatir. Bagaimana tidak, daerahnya begitu sepi, pohon besar dan semak belukar ada di sana-sini. Bahkan, Tri begitu ngeri membayangkan Sungai Batanghari yang demikian lebar membelah tanah Jambi.

“Solo tidak sesepi Tabo. Belum lagi jarak ke pasar sangat jauh dan tak ada sekolah,” cerita Tri.

Dunia baru itu sering membuat Tri ragu. Apakah dia dan keluarganya bakal bisa bertahan di Tabo?

Tri melanjutkan ceritanya, “Lingkungan benar-benar masih berantakan. Pohon-pohon hasil pembukaan lahan masih berserakan. Saya ingin nangis saja rasanya”.

Tahun pertama merupakan masa paling sulit bagi Tri. Namun, dia bertekad untuk bertahan. Dia yakin kehidupan keluarganya bakal membaik. Saat di Solo, suaminya hanyalah pencatat   meteran listrik dengan gaji yang jauh dari sekadar cukup.

Tak hanya tanah transmigran yang belum cukup menghasilkan. Kehidupan sosial di lingkungan transmigran juga belum tertata, terutama soal pendidikan.

Banyak anak-anak yang tidak sekolah. Tri membayangkan nasib pendidikan anaknya kelak yang kala itu masih berusia dua tahun.

Dari situlah, saat ditawari mengajar di Sekolah Dasar, Tri langsung setuju. Padahal dia tak tahu apa-apa soal pendidikan.

Dia hanya tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dia paham soal adminitrasi keuangan, tapi tak terbayangkan bagaimana caranya menjadi guru.

“Saya hanya mengingat-ingat saja apa yang dilakukan guru saya. Dari situlah saya mulai mengajar anak-anak,” kenangnya.

Selama setahun ia mengajar di sekolah yang menumpang di balai desa dan rumah-rumah penduduk. Kabar baik pun datang, pada tahun berikutnya berita mengenai pemerintah akan membangun sekolah dasar di Te bo terdengar. Sekolah dasar tersebut kemudian menjadi SDN 201/VII Penang Belai.

Pemerintah pun tak tinggal diam. Melihat Tri yang menjadi guru perintis di SDN itu, Kementerian Transmigrasi mengganjarnya dengan beasiswa untuk kuliah diploma guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi.

Masa kuliah itu, benar-benar digunakan Tri untuk meningkatkan keterampilan mengajar. Berbekal gelar diploma tak membuat Tri berhenti menggali ilmu pendidikan.

Bagi Tri, bersekolah harus menyenangkan, karena itu suasana kelas tidak boleh membosankan dan monoton. Siswa harus aktif di dalam kelas. Namun, bagaimana caranya?

Gayung bersambut. Harapan Tri disambut oleh Tanoto Foundation. Pada 2010 lalu, yayasan milik keluarga pengusaha nasional Sukanto Tanoto ini mempunyai program Pelita Pendidikan.

Program ini didedikasikan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, khususnya di SDN 201/VII Pinang Belai. Melalui program Pelita Pendidikan, Tri mendapat pelatihan metode belajar inovatif, belajar aktif, kreatif, efektif, tetapi menyenangkan.

“Seandainya dari dulu saya tahu ada metode belajar aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan seperti yang diajarkan oleh Tanoto Foundation, tentu saya dengan senang hati menerapkannya. Metode ini membuat saya lebih menikmati dalam mengajar dan anak pun tidak mudah bosan,” kata Tri, yang memperoleh gelar sarjana dari Universitas Terbuka pada 2010.  

Tri Harjanti saat mengikuti Pelatihan Guru Mandiri dari Tanoto Foundation.

Pelatihan dari Tanoto Foundation itu membangkitkan gairah dan semangat Tri sebagai pendidik. Dia juga semakin haus ilmu. Oleh sebab itu, di manapun Tanoto Foundation mengadakan pelatihan, Tri selalu hadir, meski harus menempuh perjalanan puluhan kilometer.

Tri mengisahkan, suatu ketika dia harus mengikuti pelatihan di suatu daerah yang diselenggarakan Tanoto Foundation. Namun, di tengah perjalanan karena buruknya kondisi jalan, mobil yang ditumpangi Tri rusak. “Saya tetap meneruskan perjalanan ke tujuan, meski harus jalan kaki hingga lima kilometer,” ujarnya

Kini, selain mengajar di sekolah, Tri diberi kesempatan menjadi fasilitator lokal program Pelita Pendidikan. Dengan menjadi fasilitator, ia jadi lebih mengerti kebutuhan para guru di lapangan. Dari situlah Tri membantu dengan pengetahuan dan keterampilan ia dapatkan dari berbagai pelatihan Tanoto Foundation.

Pelatihan dari Tanoto Foundation membuat kecintaan Tri terhadap dunia pendidikan terus tumbuh. Semangat belajarnya tak pernah padam. Ia berencana untuk tetap tinggal di Tebo bersama keluarganya dan tak akan memupus cita-cita untuk menempuh pendidikan S2.

Ke depannya, Tri akan tetap semangat berbagi ilmu kepada lebih banyak murid dan guru. (Adv)