Advertorial

Meraih Mimpi di Tengah Himpitan Ekonomi

Kompas.com - 09/09/2016, 08:54 WIB

Beasiswa Tanoto Foundation telah banyak menyelamatkananak-anak Indonesia. Inilah beragam kisah dari para Tanoto Scholar, sebutan untuk penerima beasiswa Tanoto Foundation.

Sylsilia Trinova Sembiring, atau Sysil, terlahir dari keluarga petani sederhana. Ayah ibunya sehari-hari bertanam sayuran dan buah-buahan. Mata pencaharian umum di wilayah nan subur di dataran tinggi Karo, Sumatera Utara.

Namun, di tengah keterbatasan ekonomi, semangat belajar Sysil tak tumpul. Tak heran, prestasi akademisnya di sekolah selalu terbaik. Lima besar terpandai di sekolah tak pernah lepas dari genggaman Sysil.

Tak cuma pandai di kelas, gadis kelahiran 3 November 1992 di Berastagi itu, juga aktif di organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Bakti sosial, menghimpun bantuan, memberi penyuluhan, halyang rutin ia lakukan selama aktif di OSIS. Dari berorganisasi itulah sikap solider dan empati Sysil terasah.

Karena kecerdasan pula, Sysil berhasil menembus persaingan ketat untuk menjadi mahasiswi di Institut Pertanian Bogor (IPB). Di perguruan tinggi pertanian tertua di Indonesia itu, Sysil mendapat beasiswa dari Tanoto Foundation.

Sysil saat memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat di Rumah Batik Andalan, Riau

Dorongan beasiswa ini pula yang membuat minat Sysil di kegiatan sosial makin membuncah. Apalagi Tanoto Foundation juga mendukung penerima beasiswanya memiliki dan mengembangkan kepedulian sosial yang tinggi lewat program giving back ke masyarakat.

Kepedulian Sysil itu ditunjukkan dengan mengikuti secara aktif kegiatan sosial Bina Desa di Kampung Sukadamai, Bogor. Di sana, bersama Tanoto Scholar, sebutan untuk penerima beasiswa TF, lainnya ia mengajar anak-anak usia sekolah dan memotivasi mereka untuk rajin belajar.

Rupanya, kiprah Sysil ini dilirik oleh PT. Riau Andalan Pulp and Paper. Perusahaan kertas yang didirikan oleh pengusaha nasional Sukanto Tanoto ini menawarinya untuk bergabung sebagai karyawan. Kini, “Selain sebagai karyawan RAPP, saya bersama Tanoto Foundation juga memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat,” ujar Sysil bangga.

Seperti Sysil, mengenyam pendidikan tinggi bagi Dewi Oviani Tambunan, anak bungsu dari tiga bersaudara ini, ibarat mimpi siang hari. Kendala ekonomi jadi penghalang. Ayahnya bekerja sebagai sopir truk, sedang sang ibu hanya ibu rumah tangga. Untuk menopang kebutuhan keluarga, sang kakak pertama harus membantu ayahnya sebagai sopir.

Sama dengan Sysil, keterbasan bukan halangan bagi Dewi untuk meraih masa depan lebih baik. Oleh sebab itu, Dewi sangat tekun belajar.

Buah ketekunan itupun membawa hasil. Dengan mulus Dewi lolos kuliah di IPB di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Namun demikian, lolos masuk IPB justru membuat Dewi gundah. “Saya memikirkan biaya kuliah,” kenangnya.

Bagi Dewi, menggantungkan biaya kuliah kepada keluarga hanya akan menambah beban. Karena itulah, begitu di kampusnya terpampang pengumuman penerimaan beasiswa dari Tanoto Foundation, dengan penuh semangat Dewi mendaftar. “Ini kesempatan baik bagi saya,” imbuh Dewi.

Ia segera menyiapkan berkas-berkas administrasi sebagai syarat pendaftaran. Namun, ia bingung karena salah satu syarat adalah menyertakan slip gaji orang tua. Sementara, untuk sekadar mendapatkan slip gaji itu butuh perjuangan tersendiri.

Dewi sempat bingung menjelaskan ke sang ibu apa itu slip gaji. Apalagi kala itu, bapak dan kakaknya tengah berada di hutan untuk mengangkut kayu. Namun, demi pendidikan sang buah hati, ibu Dewi rela berjalan kaki menuju bengkel mobil tempat sang ayah bekerja.

“Terpaksa jalan kaki karena tidak ada angkot menuju pangkalan mobil tempat bapak bekerja tidak ada,” cerita Dewi.

Kesungguhan itu membawa hasil. Dewi lolos seleksi sebagai penerima beasiswa Tanoto Foundation. Harapan Dewi untuk meringankan beban orang tua pun tercapai.

Dewi bersyukur, ia tak sekadar menerima beasiswa, tetapi Tanoto Foundation juga mendukung peningkatan soft skill para Tanoto Scholars. Selain itu, Tanoto Foundation juga memberi ruang pada Dewi dalam kepemimpinan dan merajut jejaring dengan para Tanoto Scholars di seluruh Indonesia. "Saya sangat senang dan bangga menjadi Tanoto Scholar,” ujar Dewi.

Dukungan Tanoto Foundation dalam pendidikan juga dirasakan Kasyfil Syakirin. Sebagai anak pertama, Kasyfil diharapkan untuk menjadi penerus keluarga yang sukses. Pesan almarhum ayahnya untuk terus belajar sunguh-sungguh dan menjadi terbaik ia pegang teguh.

Tak heran, sejak di sekolah, ia menjadi salah satu murid paling cerdas dan selalu memimpin di setiap organisasi yang digeluti. Salah satu prestasi dalam organisasi saat Kasyfil sukses menginisisasi forum bagi Ketua OSIS di seluruh Kota Malang. “Dan saya terpilih menjadi ketuanya,” ujarnya bangga.

Usai lulus SMA, ia memilih kuliah di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Kasyfil memang ingin menekuni dunia broadcasting dan komunikasi.

Duduk di kursi mahasiswa, tak membuat prestasi akademik Ksyfil merosot. Selama kuliah, indeks prestasi komulatif (IPK) Kasyfil selalu di atas 3. “Dari sinilah saya mendapatkan beasiswa dari TF,” ungkapnya.

Salah satu nilai yang didapatkan Kasyfil di Tanoto Foundation adalah terus berjuang dan tidak menyerah pada keadaan. Kasyfil belajar dari Sukanto Tanoto, pendiri Tanoto Foundation. Sukanto muda tidak pernah patah semangat walaupun tidak dapat menyelesaikan pendidikan formalnya demi membantu keluarga.

“Beliau terus berusaha sehingga saat ini telah menjadi pengusaha yang sukses,” ungkapnya.

Buah ketekunan plus tambahan ilmu dari Tanoto Foundation membuat cita-cita Kasyfil sebagai professional di dunia broadcasting tercapai. Ia menjadi presenter di salah satu stasiun televisi asing di Jakarta. Ke depan, ia ingin mewujudkan harapan almarhum ayahnya untuk bisa kuliah di luar negeri.

Rasa empati para Tanoto Scholars juga dituangkan dalam bentuk nyata. Lihat saja kiprah Rico Dian Sahputra. Tanoto Scholar dari Institut Teknologi Medan ini terjun langsung dengan menghibur anak-anak pengungsi Sinabung.

Tanoto Scholars membagikan buku kepada anak-anak di posko pengungsian Sinabung.

Dengan penuh semangat Rico terus memotivasi anak-anak untuk bangkit dan terus belajar. Dan tak lupa, menyelipkan aneka permainan yang seru dan lucu agar anak-anak itu sejenak melupakan penderitaan.

Tidak hanya memotivasi, Rico juga tidak lupa memberikan pelajaran sekolah dan pengetahuan umum. "Kami juga membagikan makanan ringan, mainan, serta buku tulis dan buku bacaan agar mereka tetap bisa belajar," ujar Rico.

Kepedulian, kerja keras, pantang menyerah, rasa empati tinggi pada masyarakat miskin, sudah menjadi ciri Tanoto Scholars. Sikap itu mendarah daging karena para Tanoto Scholars meresapi betul wejangan Sukanto yang menekankan untuk tidak menyerah.

Don’t give up without a fight. Begitu cara Sukanto memotivasi anak-anak bangsa ini.

"Dari cerita beliau, saya jadi tahu bahwa untuk menjadi pemimpin sukses seperti sekarang ini Pak Sukanto harus melewati jalan terjal. Bahkan pernah juga ia gagal. Tapi beliau tak pernah patah arang. Beliau terus berjuang," ujar Ramidin Purba, Tanoto Scholar dari Universitas Jambi.

Motivasi itulah yang membuat dirinya, sebagai anak dari keluarga sederhana dari sebuah desa di pelosok Sumatera Utara, untuk terus berjuang pantang menyerah.

Tanoto Scholars memandu permainan bersama anak-anak di posko pengungsian Sinabung.

Salah satu perjuangan yang paling ia ingat pada semester kedua yakni berjuang mendapatkan beasiswa, karena keadaan ekonomi keluarga memang tak mendukung.

Tak jarang harus Ramidin terpaksa makan mi instan, demi menghemat uang makan. Karena itu, ketika usaha pertama mendapatkan beasiswa gagal, ia sedih luar biasa.

Usahanya berbuah manis, ketika di bangku semester ketiga resmi mendapatkan salah satu beasiswa Tanoto Foundation yaitu National Champion Scholarship. "Saya luar biasa senang, karena saya bisa membantu meringankan beban orangtua," ucapnya.

Ramidin mengakui ada beragam masa sulit dalam perjalanan hidupnya. Namun, di Tanoto Foundation ia mendapat pelajaran berharga. Tanoto Foundation menekankan, setiap kesulitan harus dipecahkan karena sejatinya kesulitan itu adalah proses pendidikan sekaligus pelecut untuk lebih baik lagi. Seperti itulah yang dicontohkanSukanto.

"Saya ucapkan terima kasih kepada Tanoto Foundation yang membantu memudahkan perjuangan saya," ucapnya tulus.

Kisah para anak muda itu membuktikan, dukungan Tanoto Foundation membuat mereka bisa bangkit bangkit meraih mimpi di tengah keterbatasan dan himpitan. Semangat berbagi yang patut dicontoh dan diteladani. (Adv) 

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau