Provinsi Jawa Barat mencatat sejarah dengan mendirikan koperasi pertama di Indonesia yaitu pada tahun 1947, tapatnya di Tasikmalaya. Oleh sebab itu, sudah selayaknya koperasi menjadi basis perekonomian di Jawa Barat.
Jumlah koperasi sebanyak 1.889 di Jawa Barat per tahun 2016 ini juga semakin memantapkan langkah tersebut. Koperasi-koperasi tersebut terdiri dari 1018 koperasi primer, 779 koperasi sekunder, 52 koperasi simpan pinjam, dan 49 koperasi syariah.
Di sisi lain, PDRB Jawa Barat 2015 mencapai Rp 386,84 triliun dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita sebesar Rp 23,6 juta. Kemudian, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) 5,88 persen dengan tingkat inflasi 2,81 persen serta indeks pembangunan manusia (IPM) 69,50.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) Provinsi Jawa Barat Dudi Sudrajat Abdurachim menyatakan bahwa potensi besar KUMKM terjadi karena rerata tingkat pengangguran Jabar mencapai 8,57 persen dengan tingkat kemiskinan sebesar 4,22 juta penduduk/ 8,95, sehingga terbuka peluang besar dalam pemberdayaan ekonomi mikro.
Dudi pun menambahkan bahwa prioritas Pemprov Jabar tahun ini adalah percetakan 100.000 wirausahawab baru "Prioritas program kami tahun ini adalah percetakan 100.000 wirausahawan baru dengan target kami 3.000 per tahun, pembentukan Koperasi Wirausaha Baru Sejahtera, serta komunitas markerting dalam wadah Market-Ind," ujarnya.
Suasaan studi banding rombongan Pemprov Jawa Barat yang dipimpin Kepala Dinas KUMKM Pemprov Jawa Barat Dudi Sudradjat Abdurachim (ketiga kiri) bersama perwakilan Japanese Consumer Cooperation Union (JCCU) di Shibuya, Tokyo, Kamis (24/11/2016)Demi menjaga kualitas produk KUMKM, Pemprov Jabar melakukan kerja sama dengan Jepang, yaitu penandatangan MoU antara Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dengan IKOPIN, Kulak Mitra Jawa Barat, PUSKD Jabar dengan Koperasi Sento Jepang pada akhir Agustus 2016.
Nota kesepahaman kala itu juga ditujukan dalam pelatihan sumber daya manusia, akses permodalan, manajemen operasi, hingga strategi komunikasi pemasaran.
Untuk lebih mengembangkan KUMKM tersebut, Jabar bekerja sama dengan Jepang mengadakan studi banding ke Japanese Consumer Coorperation Union (JCCU), pada Kamis (24/11/2016). Dudi mengatakan maksud kunjungannya selain studi juga menjajaki kemungkinan kerja sama ke depannya dengan koperasi terbesar di Jepang.
“Kami harapkan ke depannya koperasi-koperasi di Jawa Barat bisa kerja sama dengan JCCU, terutama tentang pengembangan bisnis dan sistem manajemen koperasi yang sudah sedemikian maju dan berdampak kesejahteraan anggotanya," katanya melalui Kasubag Humas Pemprov Jabar Aziz Zulficar dari Shibuya, Tokyo.
Menurut Dudi, jumlah penduduk Jabar yang 46 juta atau 20 persen dari penduduk Indonesia adalah aset yang sangat besar dibandingkan anggota JCCU. Hanya saja diperlukan optimalisasi dan pembinaan berkelanjutan agar KUMKM di Jabar bisa memberi dampak sehebat JCCU.
"Jabar sudah punya KPSBU (Koperasi Petani Susu Bandung Utara, red) yang sudah maju dan memiliki 5000 anggota. Studi banding ini memberikan wawasam baru, agar pengembangan ke depan lebih baik," ujar Dudi.
Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar (kiri) bertukar cenderamata dengan perwakilan Koperasi Sento Jepang di Gedung Sate, akhir Agustus 2015. Jabar dan Jepang sudah intens bekerjasama di bidang ekonomiKunci keberhasilan JCCU berupa oprimalisasi pelayanan kepada anggotanya inilah yang harus diadopsi. Komunikasi dan relasi bisnis dengan anggota menjadi fokus semua pelayanan yang dilakukan.
"Dengan memanfaatkan teknologi informasi sistem pelayanan delivery order ke rumah-rumah anggota menjadi unggulan.Terbukanya informasi mengenai produk baik dari sisi ketersediaan dan kualitas membuat puluhan juta anggota koperasi konsumen di Jepang menjadi sangat loyal dan tidak bergeser ke toko-toko privat yang lain," kata Dudi.
Manager Public Relation JCCU Haruyoshi Amana, mengatakan kerja sama tersebut sangat memungkinkan karena awal mula koperasi tersebut juga bermula dari semangat kebersamaan.
"JCCU dibentuk sebagai wadah bersama pengembangan koperasi di Jepang khususnya bidang pemasaran agrikultur produk petani. Kini, kami sudah bekerja sama dengan UNICEF terkait pendidikan anak di Mozambiek dan negara lainnya di Afrika, sehingga memungkinkan pula bekerja sama dengan Pemprov Jabar," katanya.
Menurut dia, setelah dipelopori Co-Op Kobe (koperasi konsumen pertama) tahun 1879, koperasi di Jepang berkembang terutama di kantong-kantong industri seperti Tokyo, Kyoto, Fukushima dan Kansai.
Saat ini, JCCU memiliki 586 koperasi konsumen sebagai anggota dengan 28 juta lebih penduduk Jepang menjadi anggota gerakan koperasi konsumen ini.
Kini, mereka memiliki 967 toko tersebar di seantero negeri, total omset koperasi konsumen di bawah JCCU ini mencapai 2,7 trilyun yen ini setara dengan 270 trilyun rupiah. Sebuah angka yang menakjubkan untuk ukuran koperasi di Indonesia.
"JCCU telah menjelma menjadi perusahaan raksasa. Hampir seribu toko koperasi di Jepang ini juga didukung perwakilan perusahaan di negara lain. Kantor kami di luar negeri dengan label CO-OP TRADE beroperasi di Washington-USA, Shanghai, Hongkong, Ho Chin Min, Bangkok dan Singapura," kata Haruuyoshi.