Advertorial

Digitalisasi: Tantangan Perbankan di Tengah Serbuan Fintech

Kompas.com - 12/12/2016, 10:02 WIB
- -

Bermunculannya perusahaan-perusahaan keuangan berbasis teknologi atau financial technology (fintech) memaksa industri perbankan untuk berbenah diri.

Fintech tidak saja melayani pembayaran, pinjaman atau jasa keuangan lain sebagaimana bisnis tradisional perbankan. Dengan kapasitas teknologi dan inovasi tiada henti, mereka dapat menjangkau nasabah yang selama ini tidak punya akses ke sistem perbankan.

-

Pertumbuhannya yang pesat terlihat dari nilai investasi yang ditanamkan modal ventura (VC) ke startup fintech. Tak kurang sebesar 13,8 miliar dollar Amerika Serikat, atau sekitar Rp 186,9 triliun dikucurkan sepanjang 2015. Lebih dari dua kali jumlah penanaman modal selama 2014.

Saat ini ada 19 fintech yang bernilai di atas 1 miliar dollar Amerika Serikat, atau kerap disebut sebagai “unicorn”.

Sachin Mittal, Telecom, Media and Technology Analyst dari DBS Group Research, menyebutkan fintech mempunyai sejumlah kelebihan dibandingkan bank tradisional. Fintech, menurutnya, lebih efisien karena mampu menekan biaya operasional. Alhasil mereka bisa memberikan fasilitas pinjaman lebih murah.

Fintech pun melayani secara lebih personal dan menjangkau ke masyarakat yang selama ini sama sekali tidak dapat mengakses layanan perbankan. Termasuk ke wilayah-wilayah pelosok yang sulit dijangkau perbankan,” katanya dalam riset berjudul “Digital Banking: New Avatar – Banks Watch Out for Banks”.

Asia telah menjadi salah satu pusat fintech dunia. Di kawasan ini terdapat sekitar 2.500 startup fintech, dan berpotensi menggerus pasar tradisional perbankan. Tiongkok merupakan pemain utama fintech global, dengan Alipay sebagai perusahaan pembayaran online terbesar dunia, serta Ping An di segmen asuransi.

Sementara di India, PayTm tercatat sebagai perusahaan pembayaran online dengan lebih 122 juta pengguna.

Di tengah perkembangan ini, perbankan mau tak mau mesti merespons dengan tepat. Mittal menyebutkan ada dua cara yang dapat dilakukan.

Pertama, digitalisasi pelayanan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih cepat, murah, dan mudah ke nasabah. Misalnya, dengan membuka rekening digital melalui telepon pintar.

Kedua, mengintegrasikan kegiatan perbankan dengan kehidupan nasabah sehari-hari. Alhasil memahami apa yang dibutuhkan nasabahnya. Ini telah dilakukan DBS Singapore melalui aplikasi “Home Connect” yang memudahkan calon klien menaksir harga rumah yang akan dibelinya berdasarkan harga rata-rata di kawasan tersebut.

Dengan biaya yang murah dan daya ekspansi yang cepat, fintech bisa menggerus pasar perbankan tradisional. Menurut Mittal, tanpa berbenah margin bunga bersih dan pendapatan non-bunga perbankan tradisional bisa merosot masing-masing hingga 15 persen dan 25 persen pada 2020.

Sementara kalau mau mendigitalisasi pelayanan beban pendapatan bisa ditekan menjadi 35 persen, lebih rendah dibandingkan perbankan tradisional sebesar 45 persen.

Kendati mengancam, fintech sebetulnya memberikan peluang kepada perbankan untuk berkolaborasi. Selama ini perbankan kesulitan membuka cabang di pelosok mengingat terbatasnya pendanaan, serta sistem pengawasan dan aturan permodalan yang ketat.

Fintech pun menghadapi sejumlah kesulitan, terutama akses terhadap dana murah. Apalagi aturan sistem keuangan di tiap-tiap negara berbeda dan belum tegas mengatur bisnis ini.

Solusinya adalah dengan berkolaborasi. Perbankan dapat memanfaatkan sistem teknologi fintech untuk menjangkau nasabah dan kawasan yang tak terakses sistem perbankan tanpa harus membuka cabang fisik. Di sisi lain, fintech bisa mengakses pendanaan murah untuk meningkatkan aktivitasnya.

“Masih belum jelas bank mana yang akan menjadi pemenang, namun akan ada beberapa yakni yang telah melakukan transformasi. Dan ada yang mungkin tidak akan selamat dari ‘serangan fintech’ ini,” kata Mittal. (adv)