Advertorial

Menjawab Tantangan Keberlanjutan Energi di Masa Depan dengan Gas Alam

Kompas.com - 14/12/2016, 18:07 WIB
-

Penggunaan energi tidak pernah lepas dari keberlangsungan hidup manusia, karenanya tantangan untuk memenuhi kebutuhan energi akan selalu membayangi kehidupan manusia di masa depan.

Terlebih lagi, tantangan akan energi dalam skala global untuk 50 tahun mendatang adalah memenuhi kebutuhan lebih dari 2 miliar orang secara global. Diperkirakan permintaan energi pada saat itu akan mencapai dua kali lipat dari permintaan energi saat ini.

Badan Energi Internasional telah memproyeksikan bahwa hampir 80 persen dari energi dunia akan terus dipasok oleh bahan bakar fosil pada tahun 2050. Bahan bakar ini berlimpah dan terjangkau.

Dalam konteks pemenuhan kebutuhan energi, fokusnya adalah pada akses dan keterjangkauan namun tidak mengorbankan tanggung jawab lingkungan. Karena itu, gas alam digadang-gadang sebagai enabler yang bijaksana guna memenuhi keberlanjutan energi baik sekarang dan juga di masa depan.

Listrik berbahan bakar gas alam dapat memenuhi ekspansi kebutuhan energi. Gas ini juga mampu menyediakan kapasitas baru yang diperlukan untuk meningkatkan dan variasi pasokan serta permintaan akan energi listrik.

Di samping itu, melalui penyebaran canggih gas alam lewat teknologi, tidak hanya biaya supply chain untuk pembangkit listrik saja, tetapi juga efisiensi dan dampak lingkungan yang pada akhirnya meningkat.

Seperti halnya di Amerika Serikat. Gas alam telah menyebabkan pertumbuhan kapasitas pembangkit baru. Penggunaan gas alam menyebabkan tersedianya akses bahan bakar pembangkit yang efektif dan ekonomis.

Bagaimana dengan energi terbarukan?

Memang gagasan penggunaan energi terbarukan ketimbang menggunakan energi fosil adalah gagasan penting. Namun dalam konteks pemenuhan energi global, energi terbarukan belum dapat memenuhinya.

Konteks penyebaran energi pada skala global adalah menyediakan akses energi kepada mereka yang membutuhkan. Tentunya perlu integrasi yang dioptimalkan dari berbagai pilihan energi, bukan terpacu pada pilihan satu atau yang lain.

Optimasi ini hanya dapat dicapai jika ditambah dengan kapasitas yang diperlukan, fleksibilitas sistem, dan keandalan pasokan yang memenuhi kebutuhan keberlanjutan energi.

Karena itu, penggunaan energi terbarukan hanya akan dicapai jika aksesnya benar-benar ditingkatkan. Dan tentunya energi tersebut dapat dijangkau dengan biaya yang kompetitif.

Indonesia

Indonesia merupakan salah satu eksportir LNG (Liquefied Natural Gas) terbesar, bersama dengan Qatar, Australia, dan Malaysia. Gas yang dihasilkan oleh Indonesia dikonsumsi oleh importir LNG terbesar dunia pula seperti Jepang dan Korea Selatan, juga Inggris dan Eropa Selatan.

Indonesia juga merupakan pelabuhan cadangan gas yang berlimpah. Menurut BP Statistical Review pada tahun 2014, negara kepulauan ini memiliki 103,3 triliun kubik gas alam, atau setara dengan 1,6 persen dari cadangan total dunia.

Pemerintah sudah sangat jelas dengan sikap bahwa seharusnya lebih banyak gas yang harus dialokasikan untuk pasar domestik. Karena apabila dibandingkan dengan disel dan bensin, gas lebih murah.

Jika mampu beralih dari dua komoditas tersebut, berarti triliunan rupiah dapat ditabung negara. Dari perspektif lingkungan pun gas menawarkan sejumlah keunggulan kompetitif seperti tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, non-korosif, dan bersih.

Di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), pemerintah telah menetapkan target untuk membangun tambahan kapasitas listrik yang menghasilkan 35.000 megawatt (MW) dalam waktu lima tahun untuk mendukung 7 persen target pertumbuhan ekonomi di tahun 2019. Sebanyak 13.400 MW dari total 35.000 akan dihasilkan oleh pembangkit listrik berbahan bakar gas, seperti yang dikutip dari Jakarta Post, Maret kemarin.

PT PLN (Persero) menghitung kebutuhan gas untuk review Program Pembangunan Pembangkit Listrik berkapasitas 35.000 MW mencapai 1.250 miliar British thermal unit per hari (BBTUD).

Meskipun menyimpan cukup cadangan signifikan gas alam dan masih merupakan eksportir utama LNG, produksi gas di Indonesia telah mulai berkurang. GE’s Age of Gas melaporkan dan menyarankan pemerintah harus memperhatikan lebih dalam tentang sektor gas di negara tersebut.

“Sebagai penemuan awal, utilitas nasional yang bangkrut tidak mampu untuk melakukan investasi tambahan dalam jaringan atau sumber daya sampai kekurangan tersebut sifatnya menjadi akut, dan menciptakan tekanan lebih lanjut pada pemerintah dan penduduk,” ujar pihak GE’s Age of Gas. (adv)