Advertorial

Ketersediaan Air Bersih Ditentukan oleh Kuatnya Kolaborasi

Kompas.com - 04/01/2017, 17:42 WIB
Teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) di IPA Cilandak. Dok. PalyjaTeknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) di IPA Cilandak.

Defisit air bersih masih menjadi masalah di Jakarta. Sebanyak 10 juta penduduk Jakarta membutuhkan air bersih sebesar 26.100 liter per detik. Sementara itu, dua operator penyedia air bersih di Jakarta hanya mampu memasok air sebanyak 17.000 liter per detik. Artinya, sampai saat ini masih ada defisit air bersih sebesar 9.100 liter per detik.

Keadaan ini berkaitan dengan keterbatasan sumber air baku, yaitu sumber air yang dapat diolah menjadi air minum dan kebutuhan rumah tangga. Di Jakarta ada 13 sungai yang mengalir, namun berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995, kualitas airnya di bawah standar mutu air baku.

Semua sungai yang mengalir di Jakarta masuk ke golongan C dan D. Sedangkan yang dibutuhkan untuk pengolahan air baku menjadi air minum harus ada di golongan A dan B.

Hal ini lantas menjadi tantangan besar bagi para penyedia air bersih. Sebab, kebutuhan akan air bersih terus meningkat. Penyedia air bersih mesti bekerja keras untuk mengolah dan menyuplai air kepada warga dengan memanfaatkan sumber air yang ada.

Operator penyediaan dan pelayanan air bersih wilayah barat Jakarta PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) pun menganggap tidak adanya pertambahan air baku yang signifikan sebagai salah satu tantangan utama. Sebab, Palyja sendiri punya visi melayani warga Jakarta untuk mendapatkan akses air bersih dengan mudah.

Corporate Communication Division Head Palyja Meyritha Maryanie mengatakan, upaya Palyja untuk menyuplai air ke pelanggan di Jakarta harus dibarengi dengan kerja sama yang kuat antara Palyja, para pemangku kepentingan, serta masyarakat.

“Kami tidak bisa sendiri. Kami membutuhkan kerja sama antar-institusi untuk mendukung kami dalam melayani pelanggan. Untuk itu kami harus memperkuat kerja sama,” ujar Meyritha saat ditemui di Aksi Peduli Lingkungan Palyja di Saung KPC Pejaten Timur, Jakarta, Rabu (21/12/2016).

Menurut Meyritha, ketersediaan air bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi, tetapi juga pemerintah pusat, salah satunya di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Oleh sebab itu kami call for action dari semua institusi yang terlibat di air bersih ini,” kata Meyritha.

Selain itu, Meyritha juga mengharapkan kerja sama dari masyarakat. Seperti diketahui, sebagian warga Jakarta punya kebiasaan yang mencemarkan lingkungan, seperti membuang sampah ke kali. Sungai Ciliwung menjadi korbannya.

“Kenapa air Ciliwung sekarang tidak dipakai? Padahal dulu air dari Ciliwung juga bisa kami olah. Nah, sekarang kami tidak bisa ambil air baku dari Ciliwung. Kalau tidak ada kerja sama, termasuk dari masyarakat, sungai akan begitu terus,” tutur Meyritha.

Maka dari itu, sejak akhir tahun 2015 hingga kini, Palyja menggaungkan jargon “Bersama Demi Air”. Tujuannya, untuk mengajak semua pihak bekerja bersama-sama menjaga kebersihan dan kualitas air, sehingga nantinya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer dalam kehidupan.

Meyritha menuturkan, Palyja berkeinginan agar 13 sungai di Jakarta bisa menjadi sumber air baku untuk diolah demi kebutuhan warga. Dengan begitu, tak ada lagi persoalan krisis sumber air bersih. Oleh karena itu, Meyritha mengajak semua pihak untuk turut serta mewujudkan ini.

“Mau kami, suatu saat sungai itu menjadi sumber air baku untuk Jakarta. Nah, ini upaya bersama, yang harus dilakukan secara bersama-sama. Tidak bisa satu pihak lakukan, yang lain tidak, yang lain tetap buang limbah ke sungai,” kata Meyritha.

Meyritha mencontohkan, upaya Palyja mengajak semua pihak bekerja bersama untuk peningkatan produksi air tampak  dari kerja sama restrukturisasi menyeluruh hubungan Palyja dan PAM Jaya. “Itu adalah bagian dari bersama demi air tadi. Kita lakukan semuanya. Menghilangkan ego masing-masing untuk bekerja bersama-sama demi air,” tutur Meyritha.

Selain itu, untuk merangkul masyarakat Palyja juga mendukung dan membina tujuh komunitas yang dinamakan Palyja Green Community (PGC). Tujuh komunitas itu umumnya tersebar di pinggir sungai.

“Tujuannya supaya mereka yang tinggal di pinggir sungai tidak membuang sampai ke sungai. Mereka malah menarik sampah dari sana. Contohnya Komunitas Pecinta Ciliwung (KPC), mereka menarik sampah organik untuk diolah menjadi gas dengan biodigester,” kata Meyritha.

Jika kerja sama dengan seluruh pihak terkait berhasil dilakukan, maka tantangan para penyedia air untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada warga Jakarta akan terselesaikan. Dampaknya, ketersediaan air bagi seluruh warga Jakarta akan lebih merata. (adv)

Baca tentang