Advertorial

Upaya PALYJA Tingkatkan Ketersediaan Air Baku di Jakarta

Kompas.com - 24/01/2017, 19:34 WIB
PALYJA memanfaatkan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) untuk menambah ketersediaan air baku. Dok. PALYJAPALYJA memanfaatkan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) untuk menambah ketersediaan air baku.

Kebutuhan warga Jakarta akan air bersih yang terus meningkat tidak diimbangi dengan ketersediaan air baku, yaitu sumber air yang dapat diolah sebagai air minum. Imbasnya, suplai air untuk warga Jakarta masih defisit.   

Saat ini, 10 juta penduduk Jakarta membutuhkan air bersih sebanyak 26.100 liter per detik. Namun, operator penyedia air bersih di Jakarta hanya mampu memasok air sebanyak 17.000 liter per detik. Artinya, sampai saat ini masih ada defisit air bersih sebanyak 9.100 liter per detik.

Defisit suplai air bersih itu terjadi karena sumber air baku di Jakarta terbatas. Production and Maintenance Division Head PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) Akhmad Santika mengatakan, ada 13 sungai yang mengalir di Jakarta, namun sebagian besar kualitasnya di bawah standar mutu air baku.

“Kalau mengacu kepada SK Gubernur DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995 ada 4 golongan mutu air baku, yaitu A, B, C, dan D. Sungai yang mengalir di Jakarta itu semuanya masuk golongan C dan D. Sedangkan pengolahan air baku untuk air minum harus golongan A dan B. Kualitas air sungai Jakarta di bawah standar mutu air baku,” tutur Santika saat ditemui di Instalasi Pengolahan Air (IPA) PALYJA di Pejompongan, Jakarta, Jumat (16/12/2016).

Nyatanya, kata Santika, hanya dua dari 13 sungai tersebut yang masih bisa dimanfaatkan PALYJA sebagai operator penyediaan dan pelayanan air bersih untuk wilayah barat Jakarta sebagai sumber air baku. Dua sungai itu adalah Kali Krukut dan sungai Cengkareng Drain.

Santika mengatakan, dari segi kuantitas, sumber air di Jakarta masih cukup. Namun, dari segi kualitas dan kontinuitas, belum tentu. Air sungai tersebut berwarna keruh. Belum lagi, airnya tercemar sampah. Tentu saja ini menjadi masalah untuk proses pengolahannya menjadi air bersih.

Menurut Santika, ini adalah tantangan yang besar bagi PALYJA. Sebagai operator penyediaan dan pelayanan untuk wilayah barat Jakarta, PALYJA harus tetap melayani sekitar 400.000 pelanggannya dengan optimal, yakni menyuplai air bersih yang berkualitas untuk mereka. PALYJA harus memastikan air baku tetap ada dan suplai air bersih ke pelanggan bisa terus berjalan normal.

Pemanfaatan teknologi MBBR berhasil tambah air baku

Untuk menambah air baku, sejak tahun 2015 PALYJA mengoperasikan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). MBBR merupakan teknologi khusus yang digunakan untuk menyaring polutan yang terlarut dalam air baku, seperti amonium. Polutan tersebut biasanya berasal dari kandungan sampah padat atau limbah rumah tangga yang terlarut pada sumber air baku.

Teknologi ini sudah diterapkan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) PALYJA di Pejompongan. Teknologi MBBR mengurangi polutan pada air baku dari Kanal Banjir Barat. Setelah diproses dengan teknologi MBBR, barulah air baku itu diolah menjadi jernih dan bersih, kemudian masuk ke reservoir.

Tahun 2016 ini teknologi MBBR juga dibangun di IPA Cilandak. Corporate Communication Division Head PALYJA Meyritha Maryanie mengatakan, saat ini proses pembangunan MBBR di IPA Cilandak selesai pada akhir tahun 2016.

Air baku IPA Cilandak berasal dari Kali Krukut. Kandungan sampah yang terlarut dalam air semakin meningkat. Setiap harinya, sebanyak 8-16 ton sampah padat harus diangkat dari sana. Jumlah polutannya pun semakin meningkat.

Di sinilah MBBR berfungsi. Teknologi MBBR memanfaatkan mikroorganisme alami yang hidup dalam air untuk mereduksi kadar amonium yang ada dalam air baku IPA Cilandak. Hasilnya, teknologi MBBR dapat menghilangkan 70 persen kadar amonia dalam air baku yang berasal dari Kali Krukut. 

Dengan adanya teknologi ini, kata Meyritha, harapannya tak ada lagi penurunan produksi, terutama saat musim kemarau. “Jadi kita berharap tidak akan kejadian lagi seperti tahun 2015 yang lalu. Pada waktu musim kering, air Kali Krukut tinggal setengah, isinya sampah semua, dan kami harus menurunkan produksi 50 persen. Nanti dengan adanya MBBR, di sana kita bisa full kapasitas terus,” kata Meyritha.

Pemanfaatan teknologi MBBR oleh PALYJA berdampak pada pertambahan kapasitas produksi air. Sejak 2015 produksi air PALYJA terus meningkat. Pada tahun 2015, angka produksi air berkisar antara 5.100 sampai 6.200 liter per detik. Per Desember 2016, PALYJA mampu memproduksi air bersih untuk pelanggan sebanyak sekitar 6.500 liter per detik.

Artinya, PALYJA mampu menambah kapasitas produksinya di tengah kendala berupa keterbatasan sumber air baku di Jakarta. Harapannya, pemanfaatan teknologi MBBR mampu menjadi solusi agar Jakarta selalu memiliki air baku yang layak, sehingga kebutuhan warga akan air bersih tetap terpenuhi. (adv)

Baca tentang