Advertorial

Jangan Sampai Diamputasi, Obati Diabetes Dengan SoMan

Kompas.com - 22/02/2017, 08:10 WIB

World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia merilis data teranyar mengenai penderita diabetes dunia. Jumlah penderita diabetes dunia naik menjadi 422 juta jiwa, sementara di Indonesia angka kejadian (prevalensi) diabetes akan tembus 21,3 juta jiwa pada tahun 2030.

Ibarat gunung es, komplikasi diabetes bisa memicu rentetan penyakit lainnya. Pengidap diabetes berisiko dua kali lebih tinggi terserang jantung dan stroke, rentang gangguan ginjal, impotensi, penglihatan, sampai kerusakan saraf pemicu luka kaki (kaki diabetik) yang bisa berakhir pada amputasi.

Dokter Keluarga BPJS Kesehatan wilayah Tomohon, Sulawesi Utara, dr Grace Maria Salindeho, M.Kes., memaparkan, salah satu kasus terbanyak yang dijumpainya adalah kerusakan saraf (neuropatidiabetik) akibat komplikasi diabetes. Menurutnya, lebih dari 50 persen pasien diabetes rentan mengalami luka kaki. Gejalanya seperti kesemutan dan rasa baal atau matirasa.

“Banyak kasus di mana pasien komplikasi diabetes mengalami luka kaki yang telah membusuk sehingga harus diamputasi akibat penanganan yang terlambat,” ujar dokter Grace saat memberi penyuluhan kesehatan di Surabaya, JawaTimur.

Penyabet gelar Dokter Teladan se-Kota Tomohon, Sulawesi Utara, pada tahun 2010 itu menjelaskan, gangguan kaki diabetik terjadi karena kendali kadar gula yang tidak dilakukan dengan baik dan berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun.

Glukosa yang tidak terkontrol menyebabkan terganggunya suplai darah akibat penebalan atau kekakuan dinding pembuluh darah (mikroangiopati). Saraf yang telah rusak membuat pasien diabetes tidak dapat merasakan sakit, panas, atau dingin pada tangan dan kaki.

Salah satu penyebab banyaknya kasus amputasi adalah gangren. Gangren merupakan luka yang diakibatkan oleh tumpukan gula dalam darah. Luka ini disebabkan karena bakteri anaerob clostridium yang dapat hidup tanpa oksigen.

Ketika sirkulasi darah tertumpuk gula, secara otomatis sirkulasi oksigen tidak lancar sehingga menyebabkan clostridium berkembang biak. “Pilihannya ada dua, yakni kontrol gula darahnya atau Anda harus rela kehilangan anggota tubuh,” jawab Jawara Prolanis Berprestasi Dokter Keluarga Program Penyakit Kronis, ini dengan tegas.

Menurut dr Grace, saat ini banyak produk kesehatan yang bisa membantu pemulihan kaki diabetik. Namun yang perlu diperhatikan, imbuhnya, pasien harus cermat dalam memilih produk kesehatan untuk obati diabetes.

Misalnya, produk kesehatan sebaiknya tidak memberatkan kerja organ seperti ginjal dan hati, tanpa efek samping, dan tanpa bahan kimia obat. “Yang tidak kalah penting adalah obat atau herbal itu harus teruji klinik untuk diabetes,” tutur dokter yang juga menjabat sebagai Konsultan Medis PT Soman Indonesia.

Sementara itu, Ahli Gizi sekaligus Konsultan Produk Sozo Formula Manggata 1 (SoMan), Pramesti Nindyangrum, AMG.,S.Sos, menyebutkan, pengobatan kaki diabetik membutuhkan penanganan khusus. Agar penyembuhannya cepat dan maksimal, pengobatan kaki diabetik harus dilakukan dua cara, yakni pengobatan dari dalam dan luar.

Pramesti menjelaskan, SoMan merupakan produk kesehatan herbal dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah teruji klinik dan dinyatakan berkhasiat dalam menurunkan kadar gula darah. SoMan adalah produk herbal yang mengandung 39 bahan alam seperti 18 macam buah, 12 sayuran, dan 9 aneka rempah terpilih yang direkomendasikan untuk pasien diabetes, termasuk penderita luka diabetes.

“Setiap tetesnya mengandung senyawa aktif yang langsung ke sumber masalah dan bekerja secara farmakologi di dalam tubuh,” ujar pakar food combining ini.

Dokter Grace menambahkan, SoMan akan memberi nutrisi pada sel-sel beta pankreas. Nutrisi tersebut berfungsi membuat regenerasi sel beta pankreas berjalan optimal dan terjadi perbaikan pada sel yang rusak.

Setelah terjadi proses perbaikan, SoMan juga akan merangsang sel beta prankreas untuk menghasilkan insulin yang berkualitas dan cukup untuk mengendalikan gula darah.

Untuk obati diabetes dari dalam, SoMan bisa diminum sebanyak 10 tetes dalam keadaan perut kosong.Minum SoMan sebanyak tiga kali sehari, setiap bangun pagi, sebelum makan,dan sebelum tidur. Larutkan SoMan kedalam 100 mililter air putih. SoMan juga bisa diminum dua jam sebelum mengonsumsi obat medis.

Kemudian untuk obati diabetes dari luar, SoMan dapat diteteskan langsung kebagian luka.Untuk mengobatiluka yang terlalu besar, larutkan saja SoMan kedalam 100 militer air dalam botol lalu semprotkan dengan botol spray kebagian luka. Lalukan tindakan ini sebanyak lima kali sehari.

SoMan tidak mengandung Bahan Kimia Obat (BKO), pengawet, atau pewarna. Dengan demikian, produk ini aman, tanpa efek samping, dan tidak membahayakan fungsi organ seperti hati dan ginjal.

“Saya merekomendasikan produk ini karena SoMan telah teruji klinik di lembaga terpercaya dan independen seperti UGM, uji praklinik kolesterol di Universitas Pancasila, uji fitokimia di LPPM IPB, serta uji toksisitas di Lab Saraswanti. Dengan mengantongi sertifikat aman dan resmi dari BPOM dan halal dari MUI, SoMan layak untuk dicoba bagi pasien diabetes,” ungkap dokter Grace.

SoMan

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau