kabar mpr

Hidayat Nur Wahid Kagumi Sosok KH Hasyim Muzadi sebagai Tokoh Islam

Kompas.com - 17/03/2017, 13:49 WIB
- -

Kepergian KH. Hasyim Muzadi merupakan duka bagi bangsa Indonesia. Begitu juga dengan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Menurutnya, sosok Hasyim Muzadi merupakan tokoh yang berhasil mengembangkan Islam tanpa sekat dengan politik, kebangsaan, dan kelompok lainnya.

“Meski demikian, beliau tetap membela umat Islam. Saya kagum pada Beliau, tidak mendikotomi antara Islam dan kebangsaan,” ujar Hidayat pada jumat (17/03/2017).

Ditemui saat menjadi pembicara utama dalam seminar “Politik internasional dan Radikalisme Sektarian Agama : Dampaknya terhadap Progresifitas Ke-Bhinnika-an” di Yogyakarta, Hidayat mengapresiasi Hasim Muzadi yang mampu menjembatani antara umat Islam dengan umat lain dan anatara umat Islam dan negara.

Lebih lanjut dikatakan, Hasyim Muzadi juga berperan dalam mengembangkan Islam yang moderat ke dunia internasional. "Beliau menjalankan soft diplomacy ke dunia internasional sehingga mengangkat nama Indonesia," ujarnya.

Hidayat pun sempat mendengar dari orang terdekat Hasyim Muzadi menyampaikan pesan di hari-hari terakhirnya. Pesan tersebut adalah agar umat Islam tak mau diadu domba. Umat Islam harus maju dan tetap cinta Indonesia. Kemudian, hukum harus ditegakan dengan adil. 

Dalam seminar yang diadakan oleh Himpunan mahasiswa pascasarjana Indonesia di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta tersebut, Hidayat mengatakan bangsa Indonesia ini dibangun bukan asal jadi. BPUPKI yang menjadi salah satu badan untuk mempersiapkan kemerdekaan beranggotakan para akdemik dari latar belakang agama, pendidikan, profesi, asal-usul, dan suku.

"Bahkan ada anggota BPUPKI dari kalangan wanita. Dengan demikian bangsa ini didirikan tidak hanya oleh founding fathers namun juga founding mothers," katanya.

Dari ragam para pendiri bangsa tersebut maka Hidayat menegaskan Indonesia dihadirkan dan disepakati dalam ke-bhinneka-an. Para pendiri bangsa tersebut ketika menyusun dasar negara sudah paham akan dunia internasional. Mereka menerima internasionalisme asal sesuai dengan kepribadian Indonesia.

Sebab Indonesia tak bisa lepas dari masalah internasional maka masalah yang ada dituangkan dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945. "Bisa dilihat dalam pembukaan UUD," ujarnya. Dari amanat UUD tersebut maka ditegaskan oleh Hidayat Nur Wahid kita tak boleh hanya menjadi penonton.

Dalam kesempatan itu juga, Hidayat memaparkan berbagai dinamika politik yang terjadi di dunia internasional. Disebutnya banyak negara di Eropa tumbuh partai-partai radikal dan ekstrem. Mereka secara terang-terangan mempunyai program antiimigran dan antiislam.

"Mereka mempunyai program terang-terangan antiimigran dan antiislam, sedang di Indonesia umat Islam sedikit mengungkapkan masalah saja langsung di-bully," ujarnya.

Baca tentang