kabar mpr

Mangindaan : Mari Kita Contoh Sikap Toleransi Para Pendiri Bangsa

Kompas.com - 29/03/2017, 16:22 WIB
- -

Wakil Ketua MPR RI, Evert Ernest Mangindaan mengungkapkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi masyarakat Indonesia dalam kehidupan berkebangsaan. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR kepada mahasiswa Universitas Katholik De La Salle Manado, Rabu (29/3/2017).

Dalam acara sosialisasi tersebut turut hadir juga Marhani Victor Poly Pua, anggota MPR dari kelompok DPD RI daerah Sulawesi Utara dan Bara Hasibuan, anggota MPR RI dari fraksi PAN dapil Sulawesi Utara.

"Ada tantangan kebangsaan yang sedang dihadapi masyarakat sesuai dengan Tap MPR no VI tahun 2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa," ungkap Mangindaan. 

Tantangan kebangsaan tersebut meliputi masih lemahnya penghayatan keagamaan, pengabaian terhadap kepentingan daerah, kurangnya keteladanan sikap pemimpin daerah, dan ketatnya arus globalisasi. Mangindaan menuturkan bahwa tantangan-tantangan yang dimaksud berasal dalam negeri, maupun dari luar negeri.

"Ada intensitas kuatnya intervensi global dalam memengaruhi kebijakan nasional. Pengaruh ini dapat kita atasi dengan berjuang dan berpijak di bumi sendiri, yaitu Empat Pilar," ujar Mangindaan.

Selain itu, ia juga sangat menyayangkan kurangnya sikap toleransi, serta paham-paham radikal yang masih berkeliaran di masyarakat. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pemahaman kebhinekaan serta kemajemukan.

Mangindaan juga mengungkapkan bahwa generasi muda harus mencontoh sikap toleransi para pendiri bangsa. Ia menuturkan bahwa para tokoh agama, khususnya tokoh agama muslim pada saat itu memiliki rasa toleransi yang tinggi.

Hal tersebut terlihat dari sikap tokoh agama muslim yang mau menerima perubahan isi sila pertama Pancasila di Piagam Jakarta menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.  

"Para pendiri bangsa muslim yang tinggi rasa nasionalismenya sangat patut untuk dijadikan teladan. Saling menghargai, saling memahami sehingga rumusan Pancasila dan UUD terbentuk tanpa adanya diskriminasi," tutur Mangindaan.

Baca tentang